Toner

[Review] Imju Hatomugi Skin Conditioner

Hi, hello!

Kali ini aku bakal membahas toner yang super favorit banget karena:

1. Super ringan dan ngga lengket jadi bisa dipakai juga untuk Korean 7 Skin Method alias menggunakan toner atau essens sebanyak tujuh kali dengan menepuk-nepukkan atau dengan menggunakan kapas ke muka.
2. Volumenya yang super banyak –> 500 ml a.k.a setengah liter, wow!

Tanpa basa-basi, yuk kenalan dulu dengan Imju Hatomugi Skin Conditioner dari Jepang 🙂

p_20180310_103709_vhdr_on_1254737929.jpg
Repurchase kedua kalinya per 10 Maret 2018… sekarang sih botol kedua sudah habis fufufu…

Fungsi dan Klaim Produk

Walaupun namanya agak unik, skin conditioner di sini sama aja artinya dengan toner yang biasa kita pakai setelah membersihkan muka dengan pembersih entah itu milk cleanser atau foam cleanser. Hatomugi Skin Conditioner ini menjelaskan fungsinya sebagai:

  1. Pelembab dan lotion yang tidak lengket dan mampu menembus ke daerah kulit yang kering
  2. Untuk memberikan kelembaban pada kulit, merawat kehalusan dan mengurangi kekasaran
  3. Untuk menenangkan kulit setelah terbakar sinar matahari dan memiliki efek pendinginan serta pengetatan (pengencangan)

Berdasarkan fungsi tersebut, jelas produk ini mengklaim mampu untuk melembabkan, menghaluskan, mengencangkan kulit, dan menenangkan kulit yang akibat aktivitas di luar ruangan. Oh iya toner ini ngga cuma bisa dipakai untuk muka juga lho, tapi juga untuk seluruh badan. Makanya, ngga heran isinya banyak banget… 500 ml lho.

Cara Pemakaian

Penggunaan terbaik yang disarankan oleh produk ini yaitu dengan menuangkan lotion Hatomugi ini ke kapas dan kemudian dipakai sebagai masker wajah selama 5-10 menit setiap hari. Wah, kalau menurut aku sih ini sama seperti tips lotion mask-nya Chizu Saeki!

Ada yang pernah baca atau dengar tentang teknik lotion mask (atau disebut juga cotton sheet mask) dari Jepang? Jadi, seorang beauty guru dari Jepang, Chizu Saeki, mengenalkan cara untuk membantu menambah kelembaban pada kulit kita lewat teknik ini.

Tips Lotion Mask ala Chizu Saeki:
– Ambil satu kapas (satu lapis tebal)
– Tuang lotion, essence, atau toner (non alkohol ya, karena kan mau dipakai sebagai masker)
– Biarkan cairan terserap oleh kapas
– Kemudian dari 1 lapis tebal kapas, pisahkan jadi 3-4 lapis tipis kapas
– Tempelkan kapas ke kening, pipi, dan dagu
– Biarkan sebagai masker selama 5-10 menit.

Bahan

Wow, kalau baca klaimnya kelihatan oke banget ya. Nah, berikut ini adalah bahan-bahan yang digunakan dalam produk ini:

Air, Butylene glycol, Dipotassium glycyrrhizate, Ekstrak biji jobi (Coix lacryma-jobi), Styrene/acrylates copolymer, Dipropylene glycol, Alcohol, Citric acid, Sodium citrate, Methylparaben, Propylparaben.

Ini tabel dari cosDNA yang menunjukkan apakah tiap bahan memiliki potensi untuk menimbulkan iritasi atau efek sensitivitas tertentu.

cosDNA Hatomugi
cosDNA dari Imju Hatomugi Skin Conditioner (Sumber Gambar: cosDNA)

Teruntuk kalian yang berkulit sensitif dan mudah iritasi, mungkin kalian mesti pikir-pikir dulu kalau mau menggunakan produk ini karena ada alkohol.

Aku sendiri masih belum tahu kandungan spesifiknya berapa persen, tapi mengingat alkohol tidak berada di urutan yang akhir banget jadi masuk akal kalau untuk kalian yang berkulit sensitif untuk cobain dulu tester produknya sebelum kalian beli…. err, walaupun aku jarang nemu tester produk ini di Guardian atau pun Watson’s sih -.-

Kalau kalian baca tulisanku sebelumnya, saat ini tengah sebisa mungkin menghindari adanya alkohol, paraben, dan parfum dalam produk-produk skincare yang aku gunakan. Kulitku memang bukan tipe sensitif, tapi aku sadar bahwa produk-produk skin care kan aku gunakan setiap hari jadi sebisa mungkin kalau bisa aku mau produk-produk yang aku gunakan tidak mengandung alkohol, paraben, dan parfum.

Makin ke sini makin banyak produk-produk skincare yang bebas alkohol dan paraben. Mungkin belum semua produk mengurangi penggunaan parfum, tapi ada kok produk-produk skin care yang tidak terlalu memiliki wangi yang terlalu kuat.

Nah, kita akan bahas bahan yang jadi highlight dari produk ini, yaitu ekstrak biji jobi/jali (Coix lacryma-jobi).

File:Coix lacryma-jobi1.jpg
Tanaman jali (Coix lacryma-jobi) (Sumber: Biolib)

Nah, tanaman jali ini dikenal di Jepang dengan nama yuuki hatomugi, jadi jelas dong ya kenapa nama produk ini Hatomugi hehe. Oh iya, biji jali ini umum banget dikonsumsi karena kaya akan karbohidrat (BB Biogen, 2014).

Biji jali juga dapat digunakan sebagai pencerah kulit karena mengandung bahan-bahan yang menghambat penggelapan kulit (melanogenesis) karena mengandung senyawa 2-O-β-glucopyranosyl-7-methoxy-2H-1,4-benzoxazin-3(4H)-one dan coixol (6-methoxybenzoxazolinone) (Amen dkk., 2017).

Tenang aja, kedua senyawa tersebut memang mampu menghambat melanogenesis tapi keduanya terbukti aman dan ngga membahayakan melanosit yang memproduksi melanin dalam tubuh kita. FYI, melanin alias senyawa yang menyebabkan penggelapan kulit berfungsi untuk melindungi kita dari radiasi sinar UV.

Produk Apa yang Dipakai Sebelumnya?

Sebelumnya, aku pakai toner Viva Green Tea. Toner yang aku suka banget tapi susah dicarinya bahkan aku cuma bisa ketemu toner itu dalam jumlah yang relatif banyak di supermarket Yogya di Jalan Baru, Bogor.

Aku ngga ada masalah dan cocok-cocok aja pakai toner Viva Green Tea. Tapi, waktu aku ketemu Hatomugi Skin Conditioner ini dan melihat bahwa si Hatomugi ini ngga cuma sekedar toner yang dipakai beres membersihkan muka, tapi juga bisa aku pakai sebagai lotion cair untuk maskeran, jadi kenapa ngga aku cobain?

Lama Pemakaian

Aku pakai produk ini sejak Juni 2016 dan sempat stop di sekitar 2017, hmm… lupa kapan, tapi intinya sekitar Oktober 2017 aku pakai toner ini lagi. Waktu aku stop pakai itu sebenarnya aku masih maju-mundur mau cobain lagi atau ngga.

Berhubung produk ini mengandung alkohol dan paraben, aku sempat stop dan cari-cari toner lain yang setidaknya ngga mengandung paraben (saat itu aku masih mentolerir bahan preservatif yang umum ditemukan seperti phenoxyethanol yang menurutku memang ngga bikin kulitku bermasalah seperti iritasi, kemerahan, dll.).

Hanya saja, aku masih belum menemukan toner yang memenuhi kriteriaku:

  1. Ngga bikin kulit terasa lengket setelah toner digunakan –> Hatomugi masih juara sih… berasa seperti pakai air aja ini mah.
  2. Kalau itu toner non alkohol, toner itu harus gampang meresap karena aku bakal bisa gunain untuk lotion mask

Sebenarnya ini agak tricky sih, toner yang gampang meresap itu rata-rata memang mengandung alkohol karena seperti yang kita tahu penggunaan alkohol juga menyebabkan si toner gampang kering di kulit.

Seperti yang bisa kalian lihat di foto paling atas, aku beli botol keduaku di bulan Maret 2018. Bisa dibilang pemakaian botol pertama (lagi) di Oktober 2017 hingga Maret 2018 itu cukup ‘boros’ mengingat produk ini ngga cuma kupakai sebagai toner tapi juga sebagai lotion mask.

Jadi, maklum aja kalau sebotol 500 ml ini bisa habis dalam enam bulan. Walaupun aku hitung-hitung sih, ini masih jauh lebih hemat ketimbang beli toner dan essence secara terpisah hehehe.

Efek Setelah Pemakaian Rutin

Berhubung aku hanya menggunakan produk ini dengan mindset sebagai toner, jadi aku memang ngga berharap apa-apa selain produk ini memang membantu proses pembersihan muka sebelumnya dengan foam cleanser, membantu meringkas pori-pori, dan mengembalikan kesegaran ke kulit muka.

Produk ini juga enak banget aku pakai untuk menyegarkan muka setelah maskeran pakai masker wash off. Karena isi produk ini banyak ya, aku ngga ragu buat bolak-balik mengusap beberapa kali ke mukaku saking bikin kulit jadi adem hehe.

Nah, aku sempat juga mencoba teknik lotion mask yang selalu kulakukan setelah mukaku dibersihkan. Biasanya, aku melakukan teknik lotion mask ini di pagi dan malam hari. Efeknya gimana? Aku mendapati kulitku tampak cerah setelah lotion masking ini.

Selain cerah juga, aku bisa perhatiin kalau tekstur kulitku jadi halus banget dan bouncy. Kulit yang terhidrasi dengan baik tentunya memang akan menunjukkan tampilan kulit yang cerah.

Oh iya, after effect dari sering rajin lotion mask ini adalah: Make-up gampang menempel! Aku bisa dibilang jarang pakai make-up, tapi aku sering pakai DD cream atau tint moisturizer plus bedak tabur untuk base make-up dan pensil alis plus maskara.

Nah, biasanya kalau kulitku lagi ngga oke, si tint moisturizer atau DD cream dan bedak akan terlihat ngga menempel dengan baik atau jelek-jeleknya jadi menggumpal di kulit. So, yeah… thank you lotion masking routine hehe. Kalian bisa pakai tips lotion masking ini sebelum kalian make-up supaya hasilnya lebih oke 😉

Kesimpulan

  1. Produknya bekerja sesuai janjinya ngga? Yup! Khususnya, saran dari produk ini untuk digunakan sebagai masker wajah memang memberikan hasil yang terbaik. Buatku hasil teknik lotion mask dengan produk in adalah: kulit jadi cerah, lebih halus, dan bouncy.
  2. Ada reaksi tertentu (iritasi, breakout, dll)? Nope!
  3. Bakal beli lagi apa ngga? Sadly, no 🙁
    Ini murni karena paraben (methylparaben dan propylparaben) dan alkohol aja kok. Padahal sudah bagus lho produk ini ngga ada bahan parfumnya, andai kedua bahan itu ngga ada… 🙁

Beli Dimana dan Harganya Berapa?

Aku beli ini di Guardian. Harga normalnya Rp 98.500,00 tapi waktu itu aku dapat diskon yang entah berapa jadi aku bayarnya sekitar 80 ribuan gitu.

Gimana, tertarik untuk mencoba?
Share pengalaman kalian juga yang pernah pakai produk ini atau mungkin komentar kalian tentang produk ini di kolom komentar ya 😀

See you on the next post!

Referensi:

Amen, Y., E.T. Arung, M.S. Afifi, A.F. Halim, A. Ashour, R. Fujimoto, T. Goto, K. Shimizu. 2017. Melanogenesis inhibitors from Coix-lacryma-jobi seeds in B16-F10 melanoma cells. Natural Product Research 31(23): 2712-18.

BB Biogen. 2014. Hanjeli dan potensinya sebagai bahan pangan. Diakses dari http://biogen.litbang.pertanian.go.id/2014/10/hanjeli-dan-potensinya-sebagai-bahan-pangan/

4 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.