Masker Wajah

[Review] L’Oreal Pure Clay Mask – Detoxify/Purify

Hi, hello!

Apa kabar? Semoga kalian yang baca ulasan terbaru ini baik-baik dan sehat selalu. I do wish you all, my readers, have a good day 🙂

Jadi, kembali lagi ya ke ulasan tentang masker. Tren masker clay masih belum selesai karena hampir tiap merek skincare punya lini masker clay masing-masing. Masker clay juga digemari khususnya di negara-negara tropis seperti kita ini karena iklimnya yang lembab (dan panas ya akhir-akhir ini) cenderung membuat kulit kita rentan berminyak.

p_20180613_1632402050554453.jpg
Coba lihat nama variannya: Di jar tertulis detoxify, tapi di kemasan tertulis purify

Kali ini, aku akan bahas tentang L’Oreal Pure Clay Mask varian Detoxify/Purify. L’Oreal mengeluarkan tiga varian untuk masker clay-nya: Refining (warna maskernya agak kehijauan), Illuminating (warna maskernya putih), dan Detoxify/Purify (warna maskernya hitam).

p_20180613_163351194612361.jpg
Warna masker yang hitam dari varian Detoxify/Purify

Nah, kira-kira si masker L’Oreal Pure Clay Mask varian Detoxify/Purify ini bagus banget ngga ya? Sesuai janji-janji produknya ngga ya? Dan, satu hal yang penting lagi, kira-kira si masker ini bisa menyaingi masker-masker clay lainnya ngga ya?

Fungsi dan Klaim Produk

Secara umum, masker clay dikenal mampu untuk menyerap kelebihan minyak dan membersihkan pori-pori yang tersumbat oleh debu dan kotoran. Masker clay juga punya fungsi anti bakteri. Nah, masker clay dari L’Oreal ini mengklaim efek dari fungsi maskernya sebagai berikut:

Setelah penggunaan: Kulit wajah terasa bersih dan segar.

Hari demi hari: Wajah tampak bersih, bercahaya, dan kulit terlihat sehat.

Cara Pemakaian

Aplikasikan masker pada kulit wajah yang bersih, diamkan selama 10 menit, bersihkan dengan air hangat. Gunakan 2-3 kali dalam seminggu untuk hasil yang optimal. Hindari kontak dengan mata dan bibir. Bila terkena mata, bilas dengan air.

Bahan

Kaolin, Montmorillonite, Lecithin, Polysorbate 20, Butylene glycol, Propylene glycol, Oryza sativa starch, CI 77499 / Iron Oxide , Moroccan lava clay, Charcoal powder, Caprylyl glycol, Citric acid, Xanthan gum, Polyglycerin-10, Polyglyceryl-10 myristate, Polyglyceryl-10 stearate, Sodium dehydroacetate, Phenoxyethanol, Linalool, Limonene, Parfum/Fragrance (F.I.L B205780/1).

Bahan apa saja yang perlu kalian perhatikan:

  1. Phenoxyethanol
    Kalau kulit kalian cukup sensitif terhadap alkohol, aku rasa kalian perlu menimbang-nimbang untuk menggunakan produk ini. Walaupun bahan ini berada dalam urutan empat terakhir yang bisa dibilang tidak terlalu dominan, kalian mungkin bisa coba produk ini dulu sebelum kalian beli.

    Kalian bisa coba oleskan sedikit produk di beberapa bagian kulit muka untuk melihat apakah ada reaksi sensitif di kulit kalian. Penggunaan phenoxyethanol pada produk ini yaitu sebagai salah satu bahan preservatif/pengawet untuk mencegah agar kualitas produk tidak rusak.

  2. Parfum
    Oke, produk yang masih mengandung parfum itu buat beberapa orang masih jadi topik yang suka-ngga suka. Ada yang ngga mempermasalahkan karena bahan ini berada di urutan terakhir. Saranku masih sama seperti phenoxyethanol. Kalau kulit kalian sensitif atau gampang iritasi, please do try some free sample in their counter ya! 🙂

Produk Apa yang Dipakai Sebelumnya?

Kalau kalian baca tulisan-tulisan review sebelumnya, kalian bakal sadar kalau aku cukup sering coba beberapa jenis masker dengan merek berbeda. Facial mask nerdy should be my middle name. Ada beberapa merek yang aku cukup sering pakai karena antara:

  • Gampang dibeli karena ada dimana aja.
  • Atau, aku ngga tahu mau coba atau penasaran sama masker apa lagi, jadi by default aku bakal balik ke masker yang will basically do my face good up to my standard of “rutinitas masker mingguan”

Produk masker yang kupakai sebelum yaitu Gizi Beauty Mask yang ulasannya bisa dibaca di sini 🙂

Lama Pemakaian

Aku pakai produk ini mulai bulan April. Produk ini habis kupakai di awal bulan Juni. Iya secepat itu habisnya karena:
1. Aku pakai produk ini 3 kali seminggu, tiap malam setelah membersihkan muka dan sebelum pakai rangkaian produk skincare lainnya.

2. Menurutku, isinya ngga sebanyak masker in jar lainnya.
Isi produk ini ‘cuma’ 50 gram dan dengan frekuensi pemakaianku yang tiga kali seminggu masuk akal kalau produk ini habis dalam waktu dua bulan (April s/d awal Juni).

Aku pakai produk ini juga secukupnya, ngga terlalu tebal dan ngga terlalu tipis. Hmm, ya intinya… ngga berlebihan olesin si masker ini.

Tips Tertentu untuk Pemakaian

Ngga ada tips khusus sih sebenarnya. Aku biasa olesin masker ini setelah membersihkan muka dengan teknik double cleansing (pakai micellar water dulu, baru setelah cuci muka dengan cleansing foam) dan diikuti dengan pemakaian toner.

Untuk membilas muka dari masker clay yang cenderung mengeras, aku menggunakan semacam spons wajah yang telah dibasahi air untuk mengangkat masker clay ini.  Spons wajah yang aku gunakan ini namanya Natural Cellulose Facial Cleansing Sponge dan bisa dibeli di Guardian. Ngga mahal, aku lupa harga pastinya berapa tapi cleansing sponge ini sekitar Rp 20.000,00.

Cleansing sponge untuk membersihkan masker wash-off/bilas (Sumber Gambar: Guardian Singapore)

Efek Setelah Pemakaian Rutin

Jadi, aku bagi penjelasan ini jadi dua bagian:

  • Efek setiap selesai menggunakan masker ini

Aku mengakui klaim dari produk ini benar bahwa produk ini membuat kulit menjadi bersih. Oke, untuk klaim yang segar ini menurutku ya tentu aja kulit muka jadi terlihat segar, kan maskernya harus dibilas. Tentu, dengan jumlah air yang digunakan untuk membilas masker ini dari muka, kulit kita jadi banyak kena air.

Untuk klaim masker ini membuat kulit menjadi bersih, aku artikan dengan tampilan kulitku yang cerah dan ngga kusam setelah maskeran dengan produk ini. Selain itu, aku juga menilai muka yang jadi tampak bersih itu dari faktor lain yaitu komedo yang aku bahas setelah ini. Oh iya, aku merasa tampilan kulit yang cerah ini karena peran dari beras yang digunakan dalam produk ini yang tentu aja sudah terkenal banget sebagai pencerah alami.

  • Efek selama dua bulan pemakaian produk ini

Sebenarnya, masker ini ngga ada klaim khusus untuk pemakaian jangka panjang. Klaim produknya menyatakan bahwa efek pemakaian produk ini dari hari ke hari adalah wajah tampak bersih, bercahaya, dan kulit terlihat sehat, maka aku bisa bilang bahwa:

A. Wajah tampak bersih?
Selain dari faktor kulitku terlihat cerah seperti yang aku sebutkan sebelumnya, aku coba menilai dari aspek lain tentang klaim ‘kulit yang bersih’ ini. Jadi, aku coba lihat apakah dengan pemakaian selama dua bulan ini berpengaruh dengan jumlah komedoku yang berkurang?

So, how did I know it? Ya, tentu aja… aku menilai dari tiap kunjunganku ke tempat facial. Hasilnya, iya, komedoku di hidung berkurang. Maaf ya mba facialist, kalau aku suka penasaran nanyain terus komedoku banyak apa ngga hehe.

Tapi, apakah hanya karena produk ini aja? Aku rasa itu juga dibantu dari kebiasaanku yang selalu membiasakan double cleansing. Hanya aja aku menilai masker ini juga berperan besar untuk mengurangi komedo di hidungku karena dia membantu membersihkan pori-pori yang tersumbat.

Kemampuan masker clay ini untuk membersihkan pori-pori yang tersumbat oleh komedo karena tentu saja fungsi dari clay yang digunakan dalam masker ini memang membantu proses penyerapan tidak hanya minyak/sebum berlebih tetapi juga kotoran pada kulit.

Dengan kata lain, masker ini pun membantu proses pembersihan pada kulit. Kok bisa gitu? Nah lanjut baca di bawah ya hehe 😉

B. Wajah tampak bercahaya?
Hmm, maksudnya apakah wajahku jadi cerah setelah pemakaian rutin produk ini selama dua bulan? Yup, aku bisa bilang produk ini membantu kulitku tampak cerah setiap selesai pemakaian masker.

Tapi, apakah secara konstan selama dua bulan kulitku cerah terus? Aku ngga bisa bilang iya, karena aku menilai kulitku itu rentan kusam kalau aku:

  1. Kurang minum air putih
  2. Sedang berada di kondisi yang menyebabkan kulitku jadi super berminyak (padahal aku normal-kombinasi) misalnya beraktivitas outdoor, begadang (iya begadang itu bikin mukaku berminyak -_-)
  3. Ngga scrubbing alias menghilangkan si sel-sel kulit mati

Oleh karena itu, aku simpulkan dari pemakaian tiap minggu (3 kali seminggu) bahwa masker ini membantu menyerap kelebihan minyak di daerah kulit berminyak tanpa menyebabkan bagian kulit mukaku yang tidak berminyak menjadi kering.

Aku rasa ini karena efek dari kaolin yang digunakan dalam masker ini. Kaolin dikenal mampu menyerap kelebihan minyak, toksin, kontaminan, dan sekresi lainnya dari kulit serta membantu mengangkat sel-sel kulit mati pada kulit (Williams & Haydel, 2010).

C. Kulit terlihat sehat?
Oke, aku akan membahas kulit terlihat sehat ini dari faktor yang aku rasa kita semua bisa relate: Jerawat. Apakah dengan penggunaan masker ini secara rutin bikin kulitku terhindar dari jerawat? Betul, aku jarang menemukan jerawat di mukaku bahkan aku ngga ada jerawat bulanan.

Aku rasa ini ada hubungannya dengan kemampuan dari bahan clay yang berfungsi sebagai anti bakteri (Williams & Haydel, 2010). Secara spesifik, masker ini menggunakan Kaolin, Montmorillonite dan Moroccan lava clay yang dikenal juga sebagai Rhassoul clay. Oke, jadi ketiga bahan itu merupakan jenis clay alami yang ditemukan di alam.

Montmorillonite merupakan jenis bentonite yang berasal dari daerah Montmorillon di Prancis. Bentonite merupakan clay absorben yang mengandung alumunium phyllosilicate. Montmorillonite alias bentonite clay dikenal sebagai bahan detoksifikasi yang baik karena karakter polikationik yang dimilikinya berperan untuk absorpsi (penyerapan) senyawa toksin yang bermuatan negatif (Moosavi, 2017).

Moroccan lava clay juga sama-sama clay seperti Montmorillonite tapi berasal dari pegunungan di Maroko. Clay yang juga dikenal sebagai Rhassoul clay memiliki kandungan litium dan magnesium serta unsur-unsur mikro lainnya seperti besi, seng (zinc), tembaga, dan kalium.

Moroccan lava clay dikenal akan fungsinya untuk membersihkan dan menghaluskan tidak hanya kulit muka tetapi juga kulit kepala. Seperti montmorillonite, Moroccan lava clay juga dikenal sebagai bahan detoksifikasi yang baik untuk kulit (Todd, 2011).

Kesimpulan

  1. Produknya bekerja sesuai janjinya ngga? Yup!
  2. Ada reaksi tertentu (iritasi, breakout, dll)? Nope!
  3. Bakal beli lagi apa ngga? Sadly, no 🙁

Jujur, selesai aku menghabiskan produk ini dan juga produk-produk lainnya yang masih mengandung parfum, aku berniat untuk mengurangi penggunaan produk-produk yang masih menggunakan bahan seperti alkohol, paraben, dan parfum. Aku ngga bilang kalau produk yang masih menggunakan alkohol, paraben, dan parfum itu sudah pasti jelek ya. Hanya saja ini preferensi pribadi.

Jujur, aku masih bisa memaklumi penggunaan alkohol (yang biasanya berupa derivat/turunannya) dan paraben yang umumnya berfungsi sebagai bahan preservatif alias pengawet bagi produk kosmetik dan skincare. Hanya saja untuk parfum, aku berusaha sebisa mungkin mulai sekarang menghindari produk-produk yang terlalu ‘wangi’ karena makin ke sini makin banyak lho produk-produk skincare yang ngga terlalu beraroma kuat bahkan ngga menggunakan parfum sama sekali.

Jadi, aku berharap L’Oreal bisa memformulasi ulang produk masker ini jadi setidaknya menghilangkan parfum dari daftar bahannya karena sayang banget produknya memang sudah bagus dalam memenuhi klaimnya sebagai masker clay yang membantu kulit muka menjadi bersih, cerah, dan tampak sehat.

Beli Dimana dan Harganya Berapa?

Aku beli masker L’Oreal Pure Clay Mask ini di Watson’s Grand Indonesia. Untuk 50g masker in jar ini, harganya Rp 170.900,00.

Gimana, tertarik untuk mencoba?
Share pengalaman kalian juga yang pernah pakai produk ini atau mungkin komentar kalian tentang produk ini di kolom komentar ya 😀

See you on the next post!

Referensi:

Moosavi, M.. 2017. Bentonite clay as a natural remedy: A brief review. Iran Journal of Public Health 46(9): 1176-1183.

Todd, M.. 2011. Handbook of Medical Tourism Program Development: Developing Globally Integrated Health Systems. CRC Press, Florida. 255 hlm.

Williams, L.B., S.E. Haydel. 2010. Evaluation of the medicinal use of clay minerals as antibacterial agents. International Geology Review 52(7/8): 1-31.

3 Komentar

  1. Aku udh sering liat produk ini seliweran di olshop tp aku blm trtarik, karena aku pny bad experience sama clay mask. Tp liat reviewnya kok menarik ya, bisa mencerahkan dan kayanya ga terlalu thick teksturnya.
    Unextraordinarybeauty.blogspot.com

    1. Iya aku juga cukup kaget karena ngga expect sama hasilnya yg mencerahkan. Untuk pengaplikasiannya memang gampang, karena teksturnya ngga thick. Cuma walaupun parfum ada di urutan terakhir produknya, tapi buatku wanginya kok masih dominating gitu ya. Kulitku ga sensitif jadi ga ada masalah, tapi mungkin semisal kulitmu ada sensitif sama wewangian, bisa dicoba-coba di tester dulu sebelum beli.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.