Toner

[Review] Martha Tilaar Solusi Organic Renewage Face Toner

Hi, hello!
Kali ini, kita bahas yuk Solusi Organic Renewage Face Toner dari Martha Tilaar.

Aku beli produk ini dan juga Face Serum-nya (yang akan kubahas nantinya sekelarnya semua toner dan essence ini dibahas hehe). Awalnya saat rangkaian Organic Renewage ini dirilis, aku cukup tertarik untuk mencoba karena ini rangkaian skin care pertama di Indonesia dengan bahan utamanya, anggur hijau, yang ditanam secara organik. Lebih jauh lagi, anggur yang digunakan ini asalnya dari perkebunan lokal di Bali sehingga secara langsung kita juga mendukung usaha Bapak dan Ibu petani anggur yang ada di sana.

p_20181028_140507_hdr2320334540296828194.jpg
Solusi Organic Toner (kiri) dan Solusi Organice Serum (kanan)

Oh iya, out of topic sih ini, senang sih pas tahu kalau perkebunan anggur lokal di Bali itu betul-betul diseriusin dan dicari added value-nya sehingga hasil perkebunan ngga cuma untuk dikonsumsi saja. Selain skin care dan olahan pangan lain berbahan dasar anggur, tahu ngga sih ada winery lokal pertama di Indonesia yang mengunakan anggur hasil tanam dari kebun lokal? Wine dari Indonesia ini cukup terkenal dan jadi oleh-oleh khas untuk para turis asing khususnya yang lagi main ke Bali.

p_20181028_144738_11127224956261984248.jpg
Sedikit ‘Cerita’ di Balik Anggur Hijau dari Bali & Sertifikasi ECOCERT

Oke, selesai dengan sekilas info singkat tentang anggur hijau dari Bali hehe. Nah, info tambahan lagi nih, rangkaian Solusi Organic Renewage dari Martha Tilaar ini sudah mendapatkan sertifikasi ECOCERT yang menandakan bahwa produk ini sudah memenuhi standar berbahan alami dan organik menurut standar ECOCERT. Produk ini mengklaim bahwa 99,9% dari keseluruhan bahan-bahan yang digunakan dalam produk ini berasal dari bahan alami, dan 11,2%-nya berasal dari pertanian organik.

p_20181028_144920_11595317797380227676.jpg
Sekilas Info tentang Fakta & Manfaat Anggur Hijau

Selain aspek alami dan organiknya, produk-produk dalam rangkaian Solusi Organic Renewage ini tidak mengandung paraben, mineral oil, propylene glycol, dan sodium laureth sulfate (SLS). Uniknya juga nih, kemasan-kemasan untuk produk ini ramah lingkungan bahkan sampai tinta yang digunakan untuk mencetak informasi di kemasan juga tinta ramah lingkungan. Tinta ramah lingkungan? Iya, kalian ngga salah baca, tintanya itu berbahan dari sayuran, yup… vegetable ink.

At this rate, Martha Tilaar… you step up the “organic, earth-friendly” skin care game! #sistershooked

Sudah selesai kagetnya?

Oke, karena ini saatnya kita bedah si toner satu ini. FYI, toner ini aku gunakan untuk multilayer alias itu tuh yang Korean 7-skin care method. Jadi, aku gunakan produk ini layaknya aku pakai essence untuk multilayer hehe. Yup, produk ini ngga kupakai sebagai toner (malah tonernya aku pakai merek lain hehe). Kenapa? Karena, produk ini ngga mengandung alkohol dan super ringan tanpa ada sensasi lengket-lengket di kulit, nah jadi kan cocok banget untuk multilayer. Aku beli toner ini setelah selesai dengan Wardah Pure Treatment Essence yang akhirnya kualihfungsikan jadi moisturizer mist (khususnya kalau lagi di ruangan ber-AC) daripada ngga kepakai gitu kan huhu.

Klaim Produk

Toner ini bekerja untuk:
1. Menghilangkan sisa-sisa pembersih sebelumnya (milk cleanser atau foam cleanser)
2. Menyegarkan kulit
3. Menutup pori-pori yang terbuka selama proses pembersihan
4. Mempersiapkan kulit untuk menyerap pelembab
5. Mencerahkan wajah
6. Membantu meminimalisasi tanda-tanda penuaan dini

Toner ini cocok untuk segala tipe kulit.

Bahan

Air, gliserin, ekstrak buah Vitis vinifera (anggur hijau), ekstrak akar Glycyrrhiza glabra (licorice), asam sitrat, sodium benzoat, potassium sorbat, propanediol, ekstrak Salix arba (willow), fragrance

Sekarang ngerti kan, gimana aku ngga sesenang itu sama toner ini? Ekstrak bahan-bahan utamanya aja ada di urutan ketiga dan keempat yang berarti kandungannya memang banyak di produk ini. Plus, mereka menggunakan propanediol sebagai bahan preservatif alias pengawet.

Aku cukup mengapresiasi penggunaan propanediol sebagai alternatif dari bahan preservatif lainnya yang glycol-based seperti propylene glycol. Pengawet dari kelompok glycol seperti propylene glycol sebenarnya ngga cuma berfungsi sebagai pengawet aja, tapi juga berfungsi untuk membantu penetrasi produk skin care yang kita gunakan agar mampu terserap ke dalam kulit. Sayangnya, pengawet dari kelompok glycol ini secara umum berpotensi komedogenik alias menyumbat pori-pori sehingga menyebabkan timbulnya komedo.

Jadi, untuk kalian yang berpori-pori besar dan kulitnya berminyak harus agak berhati-hati dengan pengawet dari kelompok ini. Perhatikan aja, ada di urutan ke berapa si pengawet glycol ini dalam daftar bahan produk kalian. Semakin mendekati urutan akhir, maka kandungan dari bahan tersebut biasanya ngga terlalu dominan di dalam produk.

Sayangnya, aku sedikit khawatir saat baca ada asam sitrat dan sodium benzoat bersebelahan satu sama lain. Jadi, sodium benzoat itu digunakan juga sebagai preservatif yang umum ditemukan juga di produk-produk makanan dan minuman. Hal yang jadi bikin agak khawatir yaitu saat sodium benzoat ini bereaksi dengan asam askorbat, maka keduanya akan membentuk benzene yang… karsinogenik alias pemicu kanker. Oke, asam sitratnya sih ngga masalah bereaksi dengan sodium benzoat, tapi kalau ada asam askorbat (apalagi dalam konsentrasi tinggi) nih maka si asam sitrat ini akan mempercepat reaksi pembentukan benzene dari asam askorbat dan sodium benzoat.

Dan… asam askorbat dari produk ini kan berasal dari ekstrak buah anggur hijau. Posisinya yang berada di urutan ketiga pun menandakan konsentrasinya yang cukup dominan walaupun aku ngga tahu berapa persen. Selain itu, walaupun ada asam askorbat/vitamin C dalam ekstrak buah anggur hijau ini, kandungan ekstraknya pun masih tercampur dengan senyawa-senyawa lainnya seperti vitamin E, flavonoid, oligomeric proanthocyanidin (OPC)/pycnogenol, dan asam linoleat. Jadi, aku kurang yakin apakah asam askorbat yang ada dari ekstrak anggur hijau ini cukup tinggi atau engga untuk bereaksi dengan sodium benzoat sehingga membentuk benzene.

“Tapi, kenapa masih dibeli juga ul?”

Iya, intinya setelah mikir-mikir di counter Martha Tilaar Botani Square, aku teringat hal ini nih:

Reaksi pembentukan benzene itu harus di suasana yang asam

Nah, suasana asam pada rentang pH berapakah pembentukan benzene ini bisa terjadi? Dari forum diskusi Chemist Corner, rentang pH untuk pembentukan benzene ini yaitu 2,8–4,5. Asam banget kan?

Jujur aja, aku masih optimis dengan produk ini karena mendasarkan ini dari sertifikasi-sertifikasi yang sudah dimiliki oleh produk ini: kehalalan dari MUI dan jaminan bahan organik dari ECOCERT. Aku juga mikir dari nama merek juga, maksudku… Martha Tilaar itu bukan pemain baru dalam dunia kosmetik. Tentunya, mereka ngga akan main-main dalam menjamin keamanan produknya.

Update 24/05/2019: Produknya memang sudah habis, tapi aku mengusahakan untuk ukur pH toner ini dari sisa-sisa tonernya di botol (semoga masih ada!). Kenapa aku lakuin ini? Aku ngga tenang aja untuk memastikan pH-nya setidaknya di atas 4,5. Aku akan update lagi bagian ini saat aku sudah selesai ukur pH-nya barengan dengan serumnya nih (belum beli kertas lakmusnya nih huhu).

Sayangnya juga nih, produk ini masih mengandung parfum (fragrance). Memang sih urutannya ada di urutan terakhir yang menandakan bahwa kandungannya ngga seheboh itu, karena saat aku coba cium pun wanginya samar-samar. Aku sendiri ngga merasa ada efek iritasi apapun di kulitku selama penggunaan toner ini untuk multilayer, tapi mungkin untuk teman-teman yang berkulit super sensitif tetap jangan lupa untuk dicoba dulu tester-nya kalau masih mau nyobain produk ini.

Nah, selesai ya dengan kehebohan di atas. Kita perlu banget nih bahas bahan-bahan utamanya yang dipanen secara organik dan kandungannya banyak di produk ini. Buckle up, sis, here we go!

1. Anggur hijau (Vitis vinifera)
Secara umum, kandungan asam askorbat/vitamin C bisa kita temukan pada anggur jenis apapun. Tentunya, vitamin C dikenal juga fungsinya sebagai antioksidan yang mampu menangkal efek buruk radikal bebas…a.k.a penyebab utama penuaan dini tuh, huh.

Sebenarnya apa juga sih bedanya anggur ungu dengan anggur hijau in kalau toh ya sama-sama punya kandungan vitamin C? Ngga ada sih selain si anggur hijau ini sebenarnya masih ‘satu saudara’ kok wkwkw bedanya cuma si anggur hijau ngga punya pigmen antosianin yang bikin kulitnya jadi berwarna ungu seperti ‘kakaknya’ a.k.a si anggur ungu. Kok bisa gitu? Ya, sejauh ini karena ada retrotransposon pada gen VvMYB1 yang menghambat aktivasi transkripsi gen tersebut dan karena ada mutasi pada gen VvMYB2 yang menyebabkan gen tersebut ngga bekerja. Kedua gen tersebut berperan dalam sintesis antosianin di dalam buah anggur yang kemudian menyebabkan kulit buahnya berwarna merah hingga ungu gitu. For you science geek, bisa baca additional notes di bawah*

“Tapi kan ul, bukannya antosianin itu punya kemampuan antioksidan gitu ya? Berarti masih mendingan anggur ungu dong? Kenapa ngga pakai anggur ungu aja sih buat produknya?”

Memang betul antosianin itu punya kemampuan antioksidan tapi itu baru secara in vitro, masih belum ada riset terkini yang menunjukkan efek antioksidan pada tubuh setelah mengonsumsi makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dengan antosianin ini, ya kaya akar bit, terong, bayam merah, kubis merah, blueberry, dll. Jadi, marilah kita berpegangan pada fakta bahwa senyawa antioksidannya pun bisa kita temukan lewat kandungan vitamin C yang ada di keduanya.

2. Licorice/Akar manis (Glycyrrhiza glabra)
Licorice alias akar manis yang digunakan dalam toner ini mempunyai manfaat untuk mengurangi kemerahan dan penggelapan pada kulit. Kok bisa? Adanya kandungan glabridin pada akar manis berperan terhadap aktivitas antiinflamasi yang membantu mengurangi kemerahan pada kulit dan penghambatan aktivitas melanogenesis yang menyebabkan penggelapan pada kulit.

Penelitian yang dilakukan oleh Yokota dkk. (2006) dengan objek uji berupa kultur sel B16 murine dan guinea pig menunjukkan bahwa glabridin yang diberikan pada konsentrasi 0,1 hingga 1,0 μg/ml menghambat aktivitas enzim tirosinase yang ada di dalam melanosit. Nah, melanosit ini adalah sel-sel yang menghasilkan melanin ketika dipicu oleh faktor seperti sinar UV sehingga menyebabkan penggelapan pada kulit (melanogenesis). Penelitian oleh Yokota dkk. (2006) juga menunjukkan bahwa pemberian glabridin dengan konsentrasi 0,5% secara topikal (langsung di atas kulit) menyebabkan penghambatan aktivitas erythema (kemerahan) dan pigmentasi yang diinduksi oleh sinar UVB pada kulit guinea pig. Aktivitas antiinflamasi oleh glabridin secara in vitro ditunjukkan dengan penghambatan produksi anion superoksidan dan aktivitas enzim siklo-oksigenase.

3. Willow/Dedalu (Salix alba)
Bagian dari willow alias dedalu (hmm…pohon dedalu raksasa, anak Hogwarts pasti tahu lah ya hehe) yang digunakan dalam toner ini adalah bagian kulit kayunya yang kemudian diekstrak. Ekstrak kulit kayu dedalu ini dapat ditemukan pada obat-obatan baik tradisional maupun modern. Ekstrak kulit kayu dedalu juga cukup sering ditemukan pada beberapa produk skin care kok.

Ekstrak kulit kayu dedalu diketahui memiliki senyawa salisilat sehingga ngga heran ekstrak ini dikenal memiliki manfaat sebagai antiinflamasi yang mampu mengurangi kemerahan, pembengkakan, hingga demam. Ekstrak kulit kayu dedalu ini sudah lama dikenal karena antipiretik (mampu untuk menurunkan demam) dan analgesik (Highfield & Kemper, 1999; Shara dkk., 2015). Kandungan flavonoid dan polifenol pada ekstrak ini juga punya manfaat sebagai astringent dan tonic, jadi cocok ya dengan penggunaan bahan ekstrak ini dalam toner ini. Sayangnya hingga saat ini, aku belum menemukan penelitian yang secara spesifik menguji efek ekstrak kulit kayu dedalu baik secara in vivo maupun in vitro pada kulit.

Tentu aja ya, dua dari tiga bahan alami utama yang ada di produk ini punya manfaat utama untuk menenangkan kulit dengan cara mengurangi kemerahan pada kulit. Mengingat produk ini sebagai toner yang memang fungsinya selain untuk melengkapi proses pembersihan wajah dan meringkas pori-pori, ya tentu saja untuk bikin kulit kalem nih sebelumnya ditemplokin produk-produk selanjutnya ehehe.

Selesai dengan penjelasan tentang bahan… sekarang saatnya kita ke…

Produk Apa yang Dipakai Sebelumnya?

Produk toner yang kupakai sebelumnya itu Imju Hatomugi Skin Conditioner. Nah, karena toner Solusi Organic Renewage ini juga kugunakan sebagai essence yang dilayer berkali-kali, essence yang aku gunakan sebelumnya itu Wardah White Secret Pure Treatment Essence.

Lama Pemakaian

Aku beli produk ini awal Agustus. Intinya, tepat setelah aku ngga cocok dengan Wardah White Secret Pure Treatment Essence. Kenapa ngga cocoknya? Bisa banget baca di sini.

Untuk lama penggunaannya sendiri, produk ini sudah kupakai selama 4 bulan dengan frekuensi penggunaan hanya di pagi hari saja. Kenapa? Soalnya, produk-produk yang aku pakai untuk malam hari sudah sangat hydrating (dan lebih banyak ketimbang pagi hari). Jadi, kalau aku masukkin juga nih rutinitas multilayer ini ke skin care ritual malamku, malah kulitku jadi berminyak.

Untuk multilayer dengan produk ini, aku hanya pakai sebanyak tiga kali dengan catatan kalau kondisi kulitku normal-normal aja. Kalau kulitku berasa kering dan dehydrated, aku baru layering produk ini sebanyak lima kali. Biasanya, layering sampai lima kali ini dilakuin setelah malam sebelumnya begadang dan bikin tampilan kulitku ngga segar gitu.

p_20181125_1238375730708440875842744.jpg
Lubang untuk keluarin tonernya cukup besar… watch out, sis 🙁

Oh iya, kalian mesti hati-hati saat mengeluarkan toner ini karena lubang untuk mengeluarkan produknya agak besar dan karena toner ini memang cair banget jadi kalau ngga mengontrol tangan kalian saat mengeluarkan toner ini, yaudah… bisa-bisa tonernya terlalu banyak keluar dan yah, sayang banget kan kalau kebuang gitu karena kebanyakan. Awal-awal aku pakai juga masih agak kagok gimana keluarin toner ini. But, don’t worry… setelah itu aku sudah bisa mengontrol pengeluaran toner ini, fufufu… yaiyalah mau nangis kalau misalnya kebanyakan keluar tonernya.

Efek Setelah Pemakaian Rutin

Aku bakal bahas satu-satu per satu sesuai klaim mereka dan apa yang aku memang rasakan selama penggunaan toner ini. Ada beberapa klaim yang aku ngga bisa timbang berasa apa ngga efeknya di aku, karena aku pakai toner ini untuk multilayer, ngga untuk toning wajah setelah cuci muka.

  1. Menghilangkan sisa-sisa pembersih sebelumnya (milk cleanser atau foam cleanser)

Aku ngga bisa jawab apapun untuk klaim yang ini, karena ya aku ngga pakai produk ini sebagai toner. Pernah sih, iseng basahin kapas pakai toner ini dan aku gunain untuk toning beres cuci muka malam hari. Yaudah, ngga ada sisa make-up di kapas. Tapi, hal ini bisa dimaklumi karena aku jarang banget pakai make-up berat. Paling banter, aku cuma pakai BB cushion, bedak compact (bukan two way cake yang foundation itu), bikin alis, pakai maskara, dan lip cream. Yaudah gitu aja. Karena aku selalu double cleansing dengan micellar water baru habis itu pakai foam cleanser, ya mungkin saja make-upku yang ngga berat itu langsung udah terangkat dari pembersihan dengan micellar dan foam cleanser.

  1. Menyegarkan kulit

Sejauh ini aku belum pernah nemu toner yang ngga nyegerin muka tuh hehe. Cuma, aku ngerasa efek bikin segar kulit itu lebih tahan lama sejak aku menerapkan multilayer ini. Selain bikin segar, kulitku juga lebih kenyal dan lembut sejak merutinkan multilayer ini. Enak banget buat dipegang-pegang kaya kue mochi hahaha. Pakai base make-up entah itu yang berat teksturnya seperti foundation hingga yang ringan seperti BB, CC, sampai DD cream pun berasa gampang banget nempel dan ngga cakey di muka. Tampilan base make-up jadi kelihatan seperti second skin alias kasih efek “my skin but betterno make-up make-up 😀

  1. Menutup pori-pori yang terbuka selama proses pembersihan

Aku memang ngga punya pori-pori besar, tapi kalau dilihat-lihat detil banget pori-pori di daerah pipi yang dekat hidung itu cukup terlihat. Aku ngga merasa ada perubahan yang signifikan untuk tampilan pori-poriku di daerah itu selama penggunaan toner ini untuk multilayer. Ya, maksudnya pori-pori tetap terlihat walau ngga yang gede banget. Hanya aja aku merasa kulitku ngga gampang berminyak di area T-zone selama merutinkan kebiasaan multilayer tiap pagi. Efek T-zone yang jadi ngga gampang berminyak ini pun juga aku temukan saat penggunaan Secret Key Starting Treatment Essence. Kalau bisa kita simpulkan, penggunaan toner atau essence yang teksturnya cair (bukan kental ya) ini membantu hidrasi kulit jadi kelembabannya terjaga sehingga mencegah kulit memproduksi sebum/minyak berlebih.

  1. Mempersiapkan kulit untuk menyerap pelembab

Ini bener banget. Ngga usah pelembab deh, base make-up yang aku pakai aja jadi mudah menempel di kulit. Seperti yang aku bilang pada poin 1, efek ini aku dapat saat menggunakan toner ini secara multilayer ya.

  1. Mencerahkan wajah

Aku ngga bisa bilang apakah penggunaan toner ini aja entah itu cuma dipakai sekali untuk toning atau dipakai berkali-kali secara multilayer bakal bikin kulit cerah atau ngga. Hasil yang aku dapat tiap kali selesai multilayering dengan toner ini memang bikin kulitku lembut dan segar. Kulit segar ini kalau dilihat ya memang seperti efek kulit cerah, jelas sih namanya juga kulit yang terhidrasi dengan baik memang bakal terlihat cerah. Hanya aja, aku ngga bisa bilang apakah dengan penggunaan produk ini secara sendirian mampu mencerahkan kulit. Hasil yang aku bisa bilang adalah: kulit tampak cerah karena efek segar yang aku dapatkan setiap selesai multilayering produk ini tiap pagi. Aku rasa efek pencerah yang ada itu sumbernya dari vitamin C yang ada di anggurnya juga.

  1. Membantu meminimalisasi tanda-tanda penuaan dini

Tentunya, untuk melihat tanda-tanda penuaan dini yang berkurang itu ngga cukup dengan pakai produk ini aja. Mau di-layering berapa kali, ya ngga cukup. Tapi kalau kita gunain produk ini dengan tujuan untuk menambah senyawa antioksidan di kulit, jadi mau ada radikal bebas pun ngga akan sampai langsung membahayakan kulit… nah itu menurutku lebih tepat. Aku rasa produk dengan kandungan bahan-bahan utama khususnya anggur hijau yang memag kaya antioksidan ini lebih tepat digunakan untuk pencegahan terhadap tanda-tanda penuaan dini.

Oh iya tanda-tanda penuaan dini itu apa aja sih:
1) Ada kerut-kerut halus yang bisa kamu temukan di pinggir dan bawah mata, di kening serta di garis senyum
2) Kulit yang mengendur atau elastisitasnya berkurang
3) Mulai muncul bercak-bercak/noda hitam di wajah (biasanya ini karena efek paparan sinar matahari/UV)

No. 1 dan 2 itu umumnya disebabkan karena kandungan kolagen yang ada di jaringan kulit kita mulai berkurang sehingga kulit tampak kendur dan mulai muncul kerutan atau garis halus. Nah, prekursor kolagen alias bahan pemicu yang digunakan untuk sintesis kolagen di tubuh itu salah satunya adalah vitamin C. Mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung vitamin C membantu tubuh kita juga untuk mensintesis kolagen dalam tubuh. Untuk kulit muka, produk-produk perawatan yang mengandung vitamin C umum kita temukan pada rangkaian perawatan anti penuaan.

Nah, kalau kalian baca reviewku tentang Secret Key Starting Treatment Essence, toner ini bisa jadi alternatif yang baik kalau aku kehabisan si essence Secret Key itu. Dari segi bahan pun, toner ini lebih sederhana yang mana itu beda banget dibandingkan si essence Secret Key (edisi original ya) yang bahan-bahannya seabrek tapi bagus-bagus juga karena kebanyakan ekstrak-ekstrak tumbuhan gitu. Hanya aja menurutku toner dari Solusi ini juga ngga kalah kok karena bahan-bahan yang ditonjolkan dalam toner ini berada di urutan awal yang artinya kandungannya dominan dalam toner ini.

Kesimpulan

1. Produknya bekerja sesuai dengan klaimnya ngga?
Untuk klaim seperti menyegarkan kulit, mempersiapkan kulit untuk menyerap pelembab, dan mencerahkan wajah, ya produk ini bekerja sesuai klaimnya dengan catatan aku menggunakan produk ini sebagai multilayer essence ya alias ngga cuma dipakai sekali layaknya kalau kita pakai toner untuk toning. Sedangkan, untuk klaim lainnya aku ngga bisa pastiin apakah benar atau tidak, karena aku ngga melihat klaim tersebut menunjukkan hasilnya di mukaku.

2. Ada reaksi tertentu seperti iritasi, gatal, break out, dll? Nope! 🙂

3. Bakal beli lagi apa ngga? Yes…but,
Sejauh ini aku merasakan manfaat toner ini yang aku pakai secara multilayer (tiga kali di-layer setiap pagi saja) yaitu: menghidrasi kulitku dengan baik, bikin base make-up mudah menempel, dan yang paling penting T-zone lebih terkontrol pengeluaran minyaknya. Untuk manfaat yang terakhir itu, aku ngerasa kebantu banget karena sekali pun kulitku mulai terasa berminyak tapi itu ngga selebay biasanya dan malah jadi bagus gitu keliatan seperti glow alami di daerah pipi :’)

Tapi, mengingat adanya kandungan sodium benzoat, asam sitrat, dan asam askorbat (dari ekstrak anggur hijaunya), mungkin aku akan mempertimbangkan dulu untuk beli lagi atau ngga.

Beli Dimana dan Harganya Berapa?

Aku beli produk ini di Martha Tilaar Botani Square. Harga produk berukuran 140 ml ini Rp 250.000,00. Sampai sekarang (udah jalan 4 bulan nih), produknya belum habis. Ingat, aku paling intens pakai toner ini hanya di pagi hari.

Gimana, tertarik untuk mencoba?
Share pengalaman kalian juga yang pernah pakai produk ini atau mungkin uneg-uneg kalian tentang produk ini di kolom komentar ya 😀
That’s all for today.
See you on the next post
!
Additional Notes

* Penasaran kenapa ada anggur yang warnanya hijau dan ungu? Dari penjelasan di atas, aku tulis kalau anggur hijau ngga punya pigmen antosianin yang membuat kulit buah anggur menjadi ungu seperti anggur ungu. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa molekul pigmen antosianin ini diatur produksinya oleh tiga kelompok gen: MYB, bHlH, dan gen yang mentranskripsikan protein WD40. Ketiga gen tersebut mentranskripsikan faktor-faktor transkripsi yang mengatur sintesis antosianin. Gen MYB merupakan salah satu gen yang umum diteliti dalam penelitian-penelitian terkait kandungan antosianin pada anggur. Gen MYB ini berada di kromosom 2.

Nah, kelompok gen MYB pada anggur (VvMYBAVv itu singkatan dari Vitris vinifera alias nama ilmiah dari anggur) itu memiliki dua tipe gen VvMYBA (VvMYBA1 dan VvMYBA2) yang hampir sama dan telah diidentifikasi sebagai regulator/pengatur sintesis antosianin pada anggur. Gen VvMYBA1 pada anggur hijau berbeda dengan anggur ungu karena pada sekuens promoter dari gen tersebut memiliki elemen retrotransposon yang menyebabkan inaktivasi transkripsi gen ini sehingga gen ini tidak terekspresi pada buah anggur hijau yang matang (Kobayashi, dkk. 2004). Gen VvMYBA2 pada anggur hijau tidak terekspresi karena adanya dua mutasi nonkonservatif alias mutasi yang mengubah asam amino yang asli pada molekul protein, dalam hal ini antosianin, menjadi asam amino dengan karakteristik yang sangat berbeda (misal dari asam amino dengan karakteristik hidrofobik menjadi hidrofilik). Hasil tersebut didapat dari penelitian oleh Walker dkk. (2007) yang menunjukkan keberadaan markah/penanda pada dua situs mutasi di sekuens gen VvMYBA2 yang ditemukan pada seluruh kulit buah anggur hijau. Jadi, kita bisa simpulkan bahwa mutasi tersebut memang dimiliki (common mutation) pada anggur hijau dengan beragam varietas.

Referensi:

Highfield, E.S. & K.J. Kemper. 1999. White willow bark (Salix alba) diakses dari http:///www.mcp.edu/herbal/default.htm

Kobayashi, S., N. Goto-Yamamoto, H. Hirochika. 2005. Association of VvMybA1 gene expression with anthyocyanin production in grape (Vitis vinifera) skin-color mutants. Journal of Japan Society of Horticulture Science 74(3): 196-203.

Shara, M. & S.J. Stohs. 2015. Efficacy and safety of white willow bark (Salix alba) extracts. Phytotherapy Research 29: 1112-6.

Walker, A.R., E. Lee, J. Bogs, D.A.J. McDavid, M.R. Thomas, S.P. Robinson. 2007. White grapes arose through the mutation of two similar and adjacent regulatory genes. The Plant Journal 49(5): 772-785.

Yokota, T., H. Nishio, Y. Kubota, M. Mizoguchi. 1998. The inhibitory effect of glabridin from licorice extracts on melanogenesis and inflammation. Pigment Cell & Melanoma Research 11(6): 355-361.

 

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.