Pembersih Wajah

[Review] Good Virtues Co. Glowing & Goodness Brightening Facial Cleanser

Hi, hello!

Kali ini, aku akan membahas produk pembersih wajah yang sudah aku coba tahun kemarin. Produk pembersih muka dari Good Virtues Co. ini berasal dari Malaysia, tapi jangan khawatir kalian bisa menemukan produk ini di Guardian. Aku beli produk ini barengan dengan tonernya. Baik pembersih wajah maupun tonernya mencantumkan kalau keduanya ngga mengandung SLES (Sodium Laureth Sulfate), ALES (ammonium lauryl ether sulfate), paraben, triclosan, dan pewarna sintetik. Produk-produk dari Good Virtues Co. merupakan produk-produk yang sudah tersertifikasi halal juga lho.

p_20190127_2252355422734065157494570.jpg

Jadi, jelas kan ya… kenapa aku langsung ngga mikir dua kali untuk cobain pembersih wajah ini hehe. Oke, langsung kita mulai yuk bahas produk ini 🙂

Klaim Produk

Produk ini mengklaim mampu untuk membersihkan kulit tanpa menghilangkan kelembaban alami pada kulit muka karena kandungan minyak biji jintan hitam organik (black seed/habbatussauda) dalam produk ini. Produk ini juga mengklaim mampu untuk mencerahkan dan meratakan warna kulit karena kandungan ekstrak akar punarnava (dalam kemasan di produk ini disebut sebagai ekstrak Himalayan).

p_20190127_2252577684177608657529831.jpg

Bahan

Air, gliserin, sodium cocoyl glycinate, cocoamidopropyl betaine, decyl glucoside, fragrance, minyak biji jintan hitam (Nigella sativa seed oil), propanediol, ekstrak akar punarnava (Boerhaavia diffusa), asam sitrat, xanthan gum, methylchloroisothiazolinone, methylisothiazolinone, butylphenyl methylpropional

Kalau dilihat, jumlah bahan yang digunakan dalam produk ini memang tidak terlalu banyak. Dari 14 bahan yang digunakan dalam produk ini, mungkin bagi yang berkulit sensitif khususnya terhadap wewangian, bahan pewangi/fragrance yang berada di urutan keenam sebaiknya diwaspadai. Sejujurnya, aku sendiri dalam proses untuk mengurangi penggunaan produk-produk skin care yang masih menggunakan pengawet seperti paraben dan alkohol, dan pewangi. Cuma, ya… ngga semudah itu juga ‘kan menemukan produk-produk skin care yang ngga mengandung ketiganya. Sekalinya ketemu yang ngga mengandung paraben plus SLS dalam produk pembersih ini, eh… tapi masih ada fragrance di urutan awal-awal pula :’)

Jujur aja, karena capek juga cari produk pembersih muka yang memenuhi ekspektasiku, akhirnya aku tetap mencoba produk ini mengingat kulitku ngga menunjukkan reaksi apa-apa dengan pembersih muka sebelumnya yang juga mengandung pewangi dalam produknya.

Oh iya, yuk kita bahas juga bahan alami yang digunakan dalam produk ini:

  1. Minyak biji jintan hitam (Nigella sativa seed oil)

Jintan hitam (Nigella sativa) yang juga dikenal dengan habbatussauda adalah tumbuhan yang dimanfaatkan bijinya sebagai bahan pengobatan herbal. Sebagai bahan herbal, biji jintan hitam umum digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengobati masalah pencernaan, pernafasan, dan inflamasi/peradangan. Manfaat jintan hitam secara topikal (digunakan pada permukaan kulit) yaitu membantu proses penyembuhan luka dengan cara memicu pembelahan fibroblas dan meningkatkan aktivitas pembelahan faktor pertumbuhan fibroblas (fibroblast growth factor) serta transforming growth factor beta (Ab Rahman, dkk. 2014). Selain membantu proses penyembuhan luka, aplikasi jintan hitam dalam bentuk oil lotion pada kulit yang berjerawat (acne vulgaris) menunjukkan bahwa kandungan jintan hitam mampu mengurangi lesi pada jenis jerawat papule dan pustule (papule: kemerahan, agak keras bila dipegang, belum ada/belum banyak isinya; pustule: jerawat yang ada isinya). Penelitian yang sama juga menunjukkan kandungan senyawa aktif thymoquinone dalam jintan hitam yang berkontribusi pada kemampuan jintan hitam sebagai antibakteri, imunomodulator, dan antioksidan (Abdul-Ameer & Al-Harchan, 2010).

  1. Ekstrak akar punarnava (Boerhaavia diffusa)

Punarnava (Boerhaavia diffusa) merupakan tumbuhan yang tumbuh di kawasan yang lembab dan umum digunakan oleh masyarakat India. Punarnava yang berasal dari bahasa Telugu ini dapat dimanfaatkan seluruh bagian tubuhnya (akar, batang, daun, dan bunga) untuk bahan obat tradisional yang mampu mengobati masalah anemia, pencernaan, demam, dan batuk. Daun punarnava pun dapat dikonsumsi sebagai sayuran. Penelitian yang dilakukan oleh Riaz, dkk. pada tahun 2014 menunjukkan bahwa ekstrak akar punarnava memiliki kandungan antioksidan potensial. Untuk keperluan skin care sendiri nih, punarnava yang mengandung antioksidan ini tentu saja bagus untuk memerangi radikal bebas yang menyebabkan penuaan dini pada jaringan yang terpapar senyawa radikal.

Oke… selesai bahas dua bahan alami yang bikin mata senang karena baca manfaatnya, nah sekarang kita bahas tiga bahan terakhir yang sejujurnya cukup asing di mataku karena aku jarang menemukan ketiganya khususnya dalam produk pembersih wajah. Tiga bahan tersebut adalah:

  1. Methylchloroisothiazolinone (MCI)
    Oke, ini namanya panjang dan agak ribet juga ya untuk dieja hehe. Bahan yang biasa disingkat MCI ini merupakan bahan pengawet yang sangat efektif dalam melawan bakteri dan kapang pada konsentrasi yang sangat rendah. MCI ini tidak boleh digunakan sendirian dalam komposisi bahan produk skin care, karena itu MCI biasa dipadukan dengan methylisothiazolinone (MI). Paduan dari MCI dan MI akan menghasilkan jangkauan aktivitas antimikroba (bakteri dan kapang) yang lebih luas, dengan kata lain menjadi lebih efektif.

Sayangnya, MCI ini tidak baik bagi kulit yang gampang iritasi karena kemampuan yang dapat mensensitisasi kulit secara mudah. Oleh karena itu, baik MCI dan MI hanya diperbolehkan untuk digunakan pada kadar yang sangat rendah yaitu di bawah 0,0015%. Melihat dari posisi urutan MCI yang berada pada urutan ketiga terakhir, aku bisa sedikit…. sedikiiit bernafas lega karena setidaknya ini mengindikasikan bahwa kandungannya ngga banyak.

  1. Methylisothiazolinone (MI)

Selesai dengan MCI, sekarang kita bahas methylisothiazolinone (MI). Nah, MI ini merupakan bahan pengawet yang juga sangat efektif khususnya untuk melawan bakteri pada kadar yang sangat rendah. Sayangnya, MI juga sama seperti MCI yaitu mampu mengiritasi kulit secara mudah apabila kandungan MI ini ada di dalam produk yang penggunaannya tidak dibasuh/leave-on seperti toner, krim, dsb. Makanya, ngga heran kalau bahan ini ada di dalam produk pembersih muka ini karena tentu saja produk ini akan terbasuh ‘kan. Beberapa negara seperti Denmark sudah mengeluarkan larangan untuk penggunaan produk ini, walaupun ada beberapa negara yang masih memperbolehkan dengan kadar yang sangat rendah (di bawah 0,01%).

  1. Butylphenyl methylpropional

Butylphenyl methylpropional atau dikenal juga sebagai lilial merupakan pewangi yang punya aroma seperti bunga lili. Fungsinya buat apa? Ya… ngga ada sih. Bener-bener hanya sebagai pewangi aja. Hal yang bikin aku heran adalah produk ini sudah mengandung fragrance/pewangi yang ada dalam urutan keenam, kenapa perlu ditambahin lilial ini juga ya?

Tentu saja, untuk kalian yang berkulit sensitif khususnya ada bahan wewangian, sebaiknya pikir dua kali untuk menggunakan produk ini mengingat ada dua bahan pewangi dalam produk ini.

Produk yang Dipakai Sebelumnya

Sebelumnya, aku menggunakan L’Oreal White Perfect Extraordinary Whip dari Juli 2017. Berhubung si pembersih dari L’Oreal hanya perlu digunakan seukuran satu butir kacang aja sudah cukup untuk membersihkan satu mukaku, makanya si pembersih itu lama banget baru habisnya.

Lama Penggunaan

Aku mulai menggunakan produk ini sejak Agustus 2018 sampai sekarang.

Efek Setelah Penggunaan

Sejauh ini, produk ini ngga bikin kulit mukaku berasa kering atau kesat setelah selesai mencuci muka. Wanginya sendiri memang cukup kuat, makanya aku sebisa mungkin membasuh muka dengan air sebanyak-banyaknya supaya setidaknya aromanya ngga tertinggal di kulit. Selain itu, aku membasuh mukaku dengan serius juga supaya si kedua bahan pengawet itu, MCI dan MI, ngga tertinggal pada permukaan kulitku.

Oh iya, namanya juga review pembersih wajah ya, jadi aku hanya akan membahas efeknya setelah membersihkan muka dengan produk ini. Aku ngga percaya kalau hanya dengan membersihkan wajah saja terus seluruh masalah pada muka akan… whoosh, hilang. Hahaha. Oke, serius nih ya… jadi setelah membersihkan muka dengan produk ini, aku menggunakan toner seperti biasanya dan ngga menemukan adanya residu apapun pada kapas. Sedikit disclaimer, aku jarang pakai make-up berat atau pun semi-berat (bahasa apa pula ini) sehari-hari. Keseharian berdandan biasanya: pelembab dengan SPF/CC Cream (dg SPF) + bedak tabur + lip tint. Kalau pun bisa dibilang dandan yang agak serius, paling banter base make-up­-ku itu BB cream atau cushion foundation.

Sebenarnya, aku ngga heran sih kenapa aku ngga menemukan residu apapun setelah mencuci muka dengan produk ini dan kemudian diikuti dengan toner. Aku selalu biasain diri untuk pakai air miselar (micellar water) sebelumn aku mencuci muka. Fungsinya? Ya supaya setidaknya proses pembersihan muka jadi lebih maksimal tanpa harus bergantung untuk menggunakan busa sabun yang terlalu banyak. Selain itu, air miselar membantu untuk mengangkat partikel-partikel pengotor yang mungkin saja kurang maksimal kalau dibersihkan hanya dengan sabun pencuci muka.

Produk ini mengklaim kalau setelah penggunaanya akan membantu kulit tampak cerah kan? Ya, aku memang lihat ada efek kulit jadi cerah beres mencuci muka dengan produk ini. Cuma, bukannya kulit jadi cerah setelah selesai membersihkan muka itu memang hal yang wajar ditemui ya? Setidaknya, ini cerahnya tuh bukan yang gimana ya, bukan yang instan cerah seakan-akan tone kulit jadi meningkat walaupun sementara. Ini cerahnya tuh cerah yang normal kaya kalau kita beres cuci muka pada umumnya kok.

Kesimpulan

  1. Apakah produk ini bekerja sesuai klaimnya? Yes, sebagai pembersih muka pada umumnya. Mencerahkan? Sesuai klaimnya, iya, tapi cerahnya juga cerah yang normal kita dapatkan kalau aku membersihkan muka dengan jenis produk pembersih yang lain kok. Dengan kata lain, cerah yang ngga lebay.
  2. Apakah ada reaksi tertentu seperti iritasi, gatal, break out, dll? Nope, walaupun produk ini memiliki bahan yang rawan mengiritasi kulit (methylchloroisothiazolinone, methylisothiazolinone, butylphenyl methylpropional) tapi mungkin karena berada di urutan terakhir jadi kadarnya memang tidak akan dominan. Sayangnya, bagi yang berkulit sensitif tetap harus berhati-hati karena ada kandungan fragrance yang berada pada urutan awal (keenam) pada produk ini.
  3. Bakal beli lagi apa ngga? Yes…. setidaknya sampai aku menemukan pembersih muka yang lebih ringan dari segi bahan dan ngga mengandung pewangi di urutan awal seperti produk ini. Sejauh ini, aku masih oke-oke aja karena produk ini ngga mengandung SLES, ALES (keduanya berfungsi sebagai surfaktan/bahan yang membuat busa), paraben, dan ngga ada pewarna sintetik juga.

Beli Dimana dan Harganya Berapa?

Aku beli produk ini berbarengan dengan tonernya di Guardian Botani Square. Produk yang berukuran 100 ml ini dibandrol dengan harga Rp 67.900,00. Aku kurang tahu apakah di Watson’s juga menjual produk ini apa ngga, aku ngga cek juga sih huhu maaf. Jangan khawatir, kalau ngga ada Guardian di kota kalian, kalian bisa beli produk ini lewat akun Shopee resminya Good Virtues Co di sini.

Referensi

Abdul-Ameer, N. & Al-Harchan, H. 2010. Treatment of acne vulgaris with Nigella sativa oil lotion. Iraqi Postgraduate Medical Journal 2: 140-3.

Rahman, M.R.A., Razak, F.A., Bakri, M.M. 2014. Evaluation of wound closure activity of Nigella sativa, Melastoma malabachtricum, Pluchea indica, and Piper sarmentosum extracts on scratched monolayer of human gingival fibroblasts. Evidence Based Complmentary and Alternative Medicine. 2014: 190342.

Riaz, H., Raza, S.A., Hussain, S., Mahmood, S., Malik, F. 2014. An overview of ethnopharmacological properties of Boerhaavia diffusa. African Journal of Pharmacy and Pharmacology 8(2): 49-58.

 

p_20190127_2252355422734065157494570.jpg

3 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.