Toner

[Review] The Body Shop Aloe Calming Toner

Hi, hello!

Sebelumnya, aku sudah bahas tentang Good Virtues Co. Glowing & Goodness Brightening Facial Cleanser. Nah, sebelum aku bahas tentang toner dari Good Virtues yang kubeli barengan dengan si pembersih wajahnya itu, aku mau bahas dulu tentang toner yang kupakai sebelumnya. Toner ini adalah The Body Shop Aloe Calming Toner. Sesuai namanya, calming toner ini ditujukan untuk menenangkan kulit dan cocok bagi yang segala jenis kulit khususnya ditujukan bagi yang berkulit sensitif. Hmm, gimana ya performanya sendiri di kulitku? Let’s get started!

p_20190118_1811266405368627515360059.jpg

Klaim Produk

Seperti yang tertulis di kemasannya, produk ini mengklaim fungsinya untuk:

1. Membantu membersihkan sisa make-up dan kotoran pada wajah
2. Membuat kulit terasa lembut dan halus
p_20190118_1811331326378644436509390.jpg

Toner ini juga mengklaim bahwa dia ngga mengandung pewangi, pewarna, pengawet, dan alkohol. Sounds like a dream toner comes true, ‘kan? Makanya, aku suka banget waktu baca keterangan ini di informasi produknya. Jujur, aku saat itu lagi dalam proses move  on dengan tonerku sebelumnya yang masih ada parabennya yang ngga cuma satu… padahal aku suka dengan finishing-nya yang menghidrasi tapi ngga ada kesan berminyak atau pun lengket gitu. 🙁

Bahan

Air, pentylene glycol, sorbitol, butylene glycol, glycerin, propanediol, polysorbate 20, caprylyl glycol, bubuk jus daun lidah buaya (Aloe barbadensis), asam sitrat, sodium hidroksida

Bahan-bahannya cukup sederhana ya. Sayangnya, kandungan daun lidah buaya yang jadi bahan yang di-highlight dalam toner ini malah berada pada urutan ketiga terakhir. Jadi, aku ngga yakin bahan ini sedominan itu di toner ini. Terlepas dari itu, yuk kita bahas sedikit tentang daun lidah buaya! 😀

Daun lidah buaya dikenal bermanfaat sebagai bahan pelembab alami (humectant) yang digunakan khususnya untuk mengatasi kulit kering dan pecah-pecah. Daun lidah buaya juga dikenal karena mampu mengatasi kulit yang iritasi dan sensitif karena daun lidah buaya mengandung senyawa antiinflamasi dan juga antibakteri lho (Chinchilla dkk. 2013). Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa penggunaan secara topikal (dioleskan ke kulit) produk gel dari daun lidah buaya menstimulasi pembentukan jaringan epidermis, meningkatkan produksi kolagen, membentuk ulang dan meningkatkan tensile stress (kekuatan tarik) pada kulit (Chithra dkk 1998).

Jadi kita bisa simpulkan nih, penggunaan produk yang berbahan daun lidah buaya bagus untuk meningkatkan tekstur kulit dan kekencangan kulit sehingga kulit menjadi halus dan terhindar dari kerutan. Lebih bagusnya lagi, penelitian lain yang dilakukan secara in vivo (diuji langsung pada individu/objek hidup) menunjukkan bahwa penggunaan topikal daun lidah buaya terbukti secara signifikan meningkatkan tingkat penyembuhan luka yang lebih cepat dan tingkat perbaikan jaringan kulit yang luka (Tarameshloo dkk. 2012). Amazing, isn’t it? 😉

Oh iya, buat yang penasaran, ini beneran ngga pakai pengawet? Terus, gimana supaya menjamin produknya terjaga dan ngga rusak dari kontaminan? Nah, kalau kalian bisa lihat ada bahan asam sitrat dan sodium hidroksida dalam urutan dua terakhir ‘kan? Kedua bahan tersebut dapat juga berfungsi sebagai pengawet/preservatif yang membantu produk terjaga kualitasnya, walaupun spektrum kerjanya alias jangkauan perlindungannya ngga sebanyak kalau pakai pengawet yang umum ditemukan dan less irritant seperti phenoxyethanol dan ethylhexylglycerin.

Produk Apa yang Dipakai Sebelumnya?

Toner yang kupakai sebelumnya adalah Imju Hatomugi Skin Conditioner .

Efek Setelah Pemakaian Rutin

Jujur, aku mencoba untuk suka toner ini sampai minggu pertama aku pakai produk ini di awal Agustus 2018. Tapi, aku ngga bisa. Aku langsung ganti toner dan ngerasa kenapa setelah dicobain beres membersihkan muka, kok efeknya malah jadi terasa licin gitu di kulit. Ibaratnya seperti kalau kamu membersihkan muka dengan facial cleanser terus kamu ngga maksimal membilas muka, kulitnya nanti kalau dipegang bakal berasa licin.

Oke, memang sebagai toner yang mengklaim fungsinya untuk membersihkan kulit dari debu dan kotoran, aku merasa ya performanya ngga jauh beda dengan toner lain. Harap diingat, aku selalu membersihkan mukaku dua kali: dibersihkan dengan micellar water dulu, baru habis itu cuci muka dengan facial cleanser. Walaupun aku ngga menggunakan make-up setiap hari, tapi tetap saja keseharian ‘dandan’-ku yang isinya cc cream/pelembab ber-SPF, bedak tabur, lip tint, maskara, dan pensil alis… mereka tetap saja ‘kan perlu dibersihkan secara detil. Makanya, toner juga jadi bagian skin care yang aku perhatikan banget sebagai langkah pembersihan terakhir untuk memastikan kulitku bersih dan siap untuk menerima langkah skin care selanjutnya.

Nah, masalahnya… after-finish yang licin itu tuh bikin aku ngga betah 🙁

Aku rasa efek licin itu berasal dari sorbitol yang ada di urutan ketiga dari komposisi bahan toner ini. Sorbitol yang digunakan dalam produk skin care berfungsi sebagai penstabil yang bertanggung jawab membuat tekstur produk mejadi kental dan stabil. Walaupun tekstur toner ini ya cair seperti toner pada umumnya, tapi efek after-finish yang diberikan setelah selesai menggunakan toner ini memang jadi masuk akal sih: berasa licin.

Sorbitol memang digunakan juga sebagai bahan untuk skin-conditioning (melembabkan kulit untuk mempersiapkan kulit pada langkah skin care selanjutnya) dan mencegah hilangnya kelembaban dari kulit. Mungkin, karena fungsinya untuk mencegah hilangnya kelembaban, agaknya masuk akal kalau kulit berasa licin seperti ada lapisan pelindung/barrier di permukaan kulit.

Memang, bagus sih kalau after-finish dari menggunakan toner ini untuk melembabkan dan mencegah hilangnya kelembaban. Tapi, mengingat setelah menggunakan toner, aku menggunakan treatment essence, serum (kadang didahuluin booster kalau lagi ngga pakai treatment essence), dan pelembab, aku ngga merasa nyaman dengan efek licin yang aku dapat setelah menggunakan toner ini. Rasanya seperti ada lapisan lain di atas kulit dan bikin aku ngga yakin apakah produk-produk skin care yang aku gunakan setelah toner ini bisa meresap ke dalam kulit apa ngga.

Akhirnya, toner ini aku hanya pakai setiap aku selesai maskeran clay mask (aku pakai clay mask Temu-Temu dari Utama Spice, review menyusul yak!). Kenapa? Karena, ternyata toner ini cocok dan kasih kelembaban ekstra beres kulitku yang normal-berminyak ini dimaskerin clay mask. Senang deh, setidaknya aku masih bisa manfaatin toner ini ketimbang dia nganggur kan hehe.

Oh iya, tapi ini aku cuma penasaran saja sih, mungkin ya… mungkin, toner ini bakal cocok untuk kulit yang tipenya kering dan tinggal di lingkungan yang suhunya dingin. Ngga tau sih kenapa kepikiran kaya begini, mungkin ini gut feeling? Sebelumnya, aku pernah punya pengalaman sama dengan serum Wardah White Secret yang kasih after-finish berminyak gitu. Begitu aku cobain si serum itu di Boston saat lagi musim gugur, aku malah ngerasa si serumnya jadi melembabkan buat kulitku yang ndilalah jadi kering dan patchy.

Beli Dimana dan Harganya Berapa?

Aku beli ini di The Body Shop Botani Square. Untuk satu botol berukuran 250 ml, toner ini dibandrol dengan harga Rp 128.000,00.

Kesimpulan

  1. Apakah toner ini bekerja sesuai dengan klaimnya? Ya, sesuai toner pada umumnya, toner ini membantu langkah pembersihan muka sebelum masuk ke langkah skin care berikutnya.
  2. Apakah ada reaksi tertentu seperti iritasi, gatal, kemerahan, break out, dll? Nope 🙂
  3. Bakal beli lagi apa ngga? Sadly, nope.
    Sayang banget, satu hal yang bikin aku ngga bisa tahan dari menggunakan produk ini hanya after-finish-nya yang licin dan ngga cocok denganku karena aku masih pakai beberapa produk skin care. Rasanya, aku jadi ngga yakin apakah produk skin care-ku yang lain bisa meresap apa ngga kalau di kulit masih terasa licin dan seperti ada lapisan tipis yang agak oily gitu.

Seriusan sayang banget banget kenapa harus after-finish-nya ngga cocok begini, padahal ya dari segi komposisi produk yang minim bahan-bahan yang mengiritasi kulit, toner ini tuh bisa jadi toner yang bagus banget. Oh iya, sayang juga karena kandungan daun lidah buayanya juga ngga berada di urutan awal komposisi produk… jadi, agak questionable juga seberapa dominan sebenarnya si kandungan daun lidah buaya ini di dalam tonernya.

Referensi

Chinchilla, N., Carrera, C., Durán, A.G., Macías, M., Torres, A., Macías, F.A. 2013. Aloe barbadensis: how a miraculous plant becomes reality. Phytochemistry Reviews 12(4): 581-602.

Chithra, P., Sajithlal, G.B., Chandrakasan, G. 1998. Influence of aloe vera on the healing of dermal wounds in diabetic rats. Journal of Ethnopharmacology 59(3): 195-201.

Tarameshloo, M., Norouzian, M., Zarein-Dolab, S., Dadpay, M., Mohsenifar, J., Gazor, R. 2012. Aloe vera gel and thyroid hormone cream may improve wound healing in Wistar rats. Anatomy & Cell Biology 45(3): 170-7.

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.