Serum Wajah

[Review] The Body Shop Drops of Youth™ Concentrate

Hi, hello!

Kali ini aku bakal banyak cerita tentang The Body Shop Drops of Youth™ Concentrate. Aku beli produk ini karena mau mulai coba rangkaian Drops of Youth™. Beauty Advisornya bilang kalau ini dipakai sebelum serum, aku jadi mikir apa iya perlu beli serum yang lain lagi walaupun serumnya ngga harus dari The Body Shop juga gitu.

Say hello to The Body Shop Drops of Youth Concentrate 🙂

Aku cuma ngerasa saat itu kalau aku tambahin serum lagi, kulitku bakal berasa berminyak banget ditambah tekstur produk ini lumayan agak kental. Sebagai catatan, kulitku ini normal-berminyak dan rentan kemerahan kalau ada ngga cocok sama bahan tertentu.

Klaim Produk

Klaim yang ditawarkan oleh The Body Shop Drops of Youth Concentrate

Produk ini bekerja untuk:
1. Meningkatkan proses pembaharuan/regenerasi kulit (Enhance skin renewal)
2. Memicu kulit yang segar dan tampak muda pada permukaan (Trigger visibly fresh, youthful-looking skin at the surface)
3. Membantu menyamarkan tanda-tanda awal penuaan
4. Membuat kulit terasa halus, segar, dan tampak cerah

Dua klaim pertama adalah klaim yang tertulis pada klaim produk dalam versi bahasa Inggris-nya, sedangkan dua klaim terakhir adalah klaim yang tertulis versi Bahasa Indonesia-nya.

Biasanya, produk luar dengan kemasan berbahasa asing akan memiliki terjemahan yang kurang lebih mirip. Nah, seperti yang bisa kalian lihat pada foto kemasannya, aku awalnya agak sedikit kebingungan dengan pemilihan diksi yang The Body Shop Indonesia gunakan karena kalau dibaca sekilas bisa memberikan kesan berbeda.

Cuma, setelah dibaca-baca lagi sebenarnya keempatnya bisa diartikan sama kok. Klaim no.1 itu serupa dengan klaim no.3 karena proses regenerasi kulit yang baik akan meningkatkan tampilan kulit. Dengan kata lain, tanda-tanda awal penuaan seperti kulit kusam dan kendur berkurang karena kulit terbaharui dengan baik.

Klaim no.2 juga serupa dengan klaim no.4 karena sama-sama menunjukkan manfaat dari penggunaan produk ini terhadap tekstur dan tampilan kulit yang halus, segar, dan cerah. Kulit yang muda umumnya dikarakteristikkan dengan tampilan kulit yang halus, segar alias ngga kusam, dan cerah, kan? 🙂

Oh iya, produk ini mengklaim bahwa kulit akan terlihat lebih segar, halus, dan kenyal setelah penggunaan pertama. Selain itu, produk ini juga mengklaim bahwa hasil setelah penggunaan dari hari ke hari yaitu pori-pori tampak mengecil, kerutan tampak tersamarkan, kulit tampak lebih cerah, sehat, dan kenyal. Poduk ini cocok untuk dipakai di segala tipe kulit.

Produk ini mengandalkan tiga bahan yang diambil dari tumbuhan yang mampu hidup di lingkungan yang ekstrim alias resilient plant. Tiga bahan alami tersebut yaitu bunga edelweiss, criste marine (sea fennel), dan sea holly dari Brittany Coast

Bahan
Air, glycerin, alcohol denat., propanediol, ekstrak tunas Fagus sylvatica (pohon beech Eropa), Chondrus crispus (carrageenan), sodium hyaluronat, benzyl alcohol, asam salisilat, sodium hidroksida, adenosin, parfum/fragrance, ekstrak Eryngium maritimum (sea holly), kultur sel meristematik Leontopodium alpinum (bunga edelweiss), linalool, filtrat kultur kalus Crithmum maritimum (sea fennel), minyak biji-bijian Orbignya oleifera (babassu), ekstrak bunga Malva sylvestris (mallow), asam benzoat, asam sorbat, asam sitrat, limonen, sodium benzoat, potassium sorbat, xanthan gum.

Oke, seperti biasa aku akan bahas beberapa bahan alami yang masuk dalam radarku. Bahan-bahan tersebut di antaranya:

1. Ekstrak tunas beech Eropa (Fagus sylvatica)

Beech Eropa [Sumber: Wikipedia ]

Aku belum menemukan hasil penelitian yang secara spesifik menggunakan ekstrak tunas beech ini khususnya untuk penggunaan pada kulit. Satu-satunya hasil penelitian yang aku temukan yaitu hasil penelitian menggunakan ekstrak daun beech yang menunjukkan aktivitas antibakteri khususnya pada bakteri Gram positif (Nicu, dkk. 2016).

Oh iya, kalau di-cek di Incidecoder, ekstrak tunas beech ini digunakan sebagai bahan untuk skin-conditioning alias untuk menyegarkan dan melembabkan kulit. Btw, konsentrasi tunas beech di produk ini cukup dominan karena berada di urutan kelima dari 10 bahan pertama.

2. Carrageenan (Chondrus crispus)

Lumut Irlandia [Sumber: Wikipedia]

Carrageenan atau karagenan merupakan bentuk bubuk ekstrak dari suatu spesies alga merah yang dikenal sebagai lumut Irlandia atau Chondrus crispus. Karagenan ini umum digunakan sebagai pengental dan bahan penstabil baik pada produk skin care, makanan, dan minuman (Joshi, dkk. 2018).

Nah, alga ini dikenal sebagai bahan alami yang memiliki kemampuan untuk membantu penyerapan air, menjaga kelembaban dan menenangkan kulit (Wang, dkk. 2013). Konsentrasi karagenan juga cukup dominan karena berada di urutan keenam pada komposisi produk ini.

3. Ekstrak sea holly (Eryngium maritimum)

Sea holly [Sumber: Wikipedia]

Sea holly adalah tumbuhan dengan kelopak bunga berduri yang berwarna kebiruan dan umum ditemukan di kawasan pesisir Atlantik. Tumbuhan ini merupakan spesies halofitik alias tumbuhan yang mampu hidup di lingkungan dengan tingkat garam/salinitas yang tinggi.

Ekstrak sea holly mampu untuk menenangkan kulit yang kemerahan karena aktivitas antiinflamasinya (Kupeli, dkk. 2006), mencegah bahaya dari radikal bebas karena aktivitas antioksidannya, dan mampu mencegah infeksi bakteri maupun kapang karena aktivitas antimikrobanya (Meot-Duros, dkk. 2008).

4. Filtrat kultur kalus sea fennel (Crithmum maritimum)

Sea fennel [Sumber: Wikipedia ]

Kalus merupakan kumpulan sel (agregat) yang belum berdiferensiasi atau membentuk struktur jaringan atau organ tertentu. Istilah kalus umum ditemukan pada prosedur pengkulturan sel-sel secara in vitro dari sel-sel punca (stem cell) suatu tumbuhan.

Sea fennel merupakan spesies halofitik yang umum ditemukan di kawasan pesisir Atlantik. Sea fennel memiliki aktivitas antiinflamasi, antimikroba, dan antioksidan. Aktivitas aktioksidan yang ditunjukkan melalui penguraian senyawa radikal terdeteksi paling tinggi pada ekstrak sea fennel, kemudian sea rocket (Cakile maritima), dan sea holly (Meot-Duros, dkk. 2008).

5. Kultur sel meristematik bunga edelweiss (Leontopodium alpinum)

Bunga edelweiss [Sumber: Wikipedia ]

Sel meristematik adalah sel-sel yang memiliki sifat terus tumbuh sehingga dapat ditemukan pada bagian tunas dan ujung akar suatu tumbuhan. Penggunaan ekstrak dari sel-sel meristematik diyakini mampu menutrisi dan membantu regenerasi jaringan kulit.

Selain itu penggunaan kultur sel-sel meristematik secara in vitro di lab juga disebabkan keberadaan tumbuhan edelweiss semakin menurun sehingga populasinya sangat dijaga bahkan sampai ada dasar hukumnya lho. Edelweiss sendiri tumbuh di daerah pegunungan Eropa dan Asia, dan umum digunakan dalam pengobatan herbal tradisional dengan menggunakan bagian daun, bunga, batang, dan akar.

Penelitian oleh Dobner, dkk. (2004) menunjukkan bahwa ekstrak akar edelweiss yang dikeringkan memiliki kemampuan antiinflamasi. Lebih detil lagi, penelitian oleh Speroni, dkk. (2006) menunjukkan aktivitas antiinflamasi dari ekstrak akar edelweiss pada hewan. Dua penelitian tersebut mengonfirmasi kemampuan antiinflamasi yang dimiliki oleh edelweiss.

Ngga heran kalau edelweiss dilirik penggunaannya untuk produk perawatan kulit. Ulasan ilmiah oleh Dweck di tahun 2004 menjelaskan bahwa edelweiss dengan kemampuan antiinflamasinya digunakan untuk melindungi kulit terhadap inflamasi kronis yang disebabkan karena sinar matahari dimana inflamasi tersebut berujung pada penuaan kulit secara prematur dan tingginya tingkat kemunculan tumor kulit.

6. Minyak biji babassu (Orbignya oleifera)

Biji babassu [Sumber: Wikipedia]

Babassu adalah sejenis pohon palem yang umum ditemukan di kawasan Amerika Selatan. Pohon ini menghasilkan biji yang digunakan oleh masyarakat sekitar untuk diekstraksi menjadi minyak. Komunitas masyarakat di Brazil menggunakan minyak biji babassu untuk mengobati luka dan inflamasi pada kulit, serta mengobati vulvovaginitis.

Penelitian oleh Reis, dkk. (2017) menunjukkan bahwa minyak babassu memiliki aktivitas antiinflamasi yang baik dan aktivitas tersebut menjadi lebih meningkat dalam bentuk mikroemulsi. Minyak biji babassu digunakan pada kosmetik sebagai bahan untuk melembabkan kulit dengan karakteristik oklusifnya. Pelembab oklusif bermanfaat untuk menjaga kadar air dalam kulit dengan cara menciptakan lapisan pelindung pada permukaan kulit. 

 

7. Ekstrak bunga mallow (Malva sylvestris)

Bunga mallow [Sumber: Wikipedia]

Mallow adalah tumbuhan yang umum ditemukan di kawasan Eropa, Asia, dan Afrika Utara. Tumbuhan ini umum digunakan bagian akar, daun, batang, dan bunganya sebagai bahan obat tradisional seperti untuk masalah pencernaan, pernafasan, dan luka pada kulit. Ekstrak dari tumbuhan mallow memiliki kandungan senyawa antioksidan yang baik untuk melawan radikal bebas yang menyebabkan penuaan pada jaringan yang terpapar radikal bebas (Barros, dkk. 2009).

 

Sayang-sayangnya selain ekstrak tunas beech dan ekstrak karagenan/alga merah (Chondrus crispus), bahan-bahan alami yang digunakan dalam produk ini ngga bisa dikatakan memiliki persentase yang dominan karena berada di luar dari 10 bahan pertama. Bahkan untuk bahan-bahan yang dijadikan sebagai highlight dari produk ini ngga masuk dalam 10 bahan pertama seperti sea holly (urutan 13), edelweiss (urutan 14), dan sea fennel (urutan 16).

Selesai dengan bahas bahan-bahan alami yang digunakan, sekarang saat bahas bahan lainnya. Kita mulai dari:

1. Sodium hyaluronat

Struktur kimia sodium hyaluronat [Sumber: Wikipedia]

Produk ini mengandung sodium hyaluronat yang bagus untuk mengunci kelembaban agar tetap berada di dalam kulit. Sodium hyaluronat mampu mengikat molekul hingga 1000x lipat dari beratnya sendiri. Sodium hyaluronat adalah bentuk garam dari asam hyaluronat. Sodium hyaluronat pada produk kosmetik dinilai lebih baik  karena dari ukuran molekul sodium hyaluronat lebih kecil dibandingkan asam hyaluronat sehingga lebih mudah terserap ke kulit.

Untuk posisi urutannya di daftar bahan dalam produk ini, well… sodium hyaluronat masih berada dalam urutan ketujuh jadi aku pribadi cukup optimis persentase kandungannya tinggi dalam produk ini.

2. Adenosin

Struktur kimia adenosin [Sumber: Wikipedia]

Adenosin merupakan bahan yang biasa ditemukan pada produk-produk perawatan anti aging. Adenosin yang digunakan pada kulit terbukti mengurangi tampilan kerutan sehingga kulit tampak halus.

Penelitian oleh Abella dkk. (2006) menunjukkan bahwa penggunaan produk yang mengandung adenosin menunjukkan berkurangnya kerutan pada area kening/glabellar frown (kerutan yang biasa muncul kalau kita terlalu sering memicingkan mata).

Btw, adenosin dalam produk ini berada di urutan ke-11. Hmm, ngga bisa yakin apakah persentase kandungannya cukup dominan atau tidak untuk bisa menunjukkan efek pengurangan kerutan.

3. Bahan-bahan yang masuk ‘watch list’

a) Alcohol denatured

Struktur etanol [Sumber: Wikipedia ]

Alcohol denatured adalah etanol yang ditambah denaturant untuk membedakannya dengan alkohol yang dikonsumsi karena penambahan denaturant akan membuat alkohol tidak untuk dikonsumsi.

Nah, sebenarnya penggunaan alkohol denatured ini masih diperdebatkan, karena alkohol denatured sendiri bisa berperan sebagai solvent/pelarut bagi bahan-bahan yang ngga larut oleh air atau minyak. Selain sebagai pelarut, alkohol juga membantu produk untuk terserap dengan cepat ke dalam kulit.

Di sisi lain, alkohol dinilai ngga baik bagi kulit karena penggunaan sehari-hari secara topikal malah menyebabkan kulit jadi kering dan memicu kulit untuk memproduksi lebih banyak sebum. Alkohol juga dinilai merusak lapisan pelindung alami kulit bila kandungannya ada di dalam produk yang dipakai sehari-hari.

Hal yang masalah dalam produk ini adalah alcohol denatured ini berada di urutan ketiga dalam daftar bahan produk ini. Dengan kata lain, persentase kandungannya cukup banyak. 🙁

b) Benzyl alcohol

Struktur benzyl alcohol [Sumber: Wikipedia ]

Benzyl alcohol merupakan jenis alkohol aromatik yang biasa digunakan dalam produk kosmetik sebagai pengawet/preservatif supaya kualitas produk ngga cepat rusak.

Nah, biasanya benzyl alcohol dipadukan dengan potassium sorbat yang juga sesama pengawet supaya kerjanya sebagai pengawet lebih efektif. Benzyl alcohol dalam produk ini berada di urutan kedelapan, jadi… ngga bisa dibilang urutan akhir banget sih.

Umumnya, penggunaan benzyl alcohol dalam suatu produk sebesar 1%. Aku ngga yakin, apakah dengan posisinya yang berada di urutan kedelapan itu persentase produknya berada di range 1% atau ngga? 🙁

Produk Apa yang Dipakai Sebelumnya?

Untuk konsentrat, The Body Shop Drops of Youth Concentrate adalah produk konsentrat pertama yang pernah aku coba. Hanya saja, aku menganggap produk ini sebagai ekuivalennya serum walaupun Beauty Advisornya bilang produk ini bisa difungsikan sebagai pre-serum (digunakan sebelum serum).

Aku awalnya agak kurang yakin untuk menambahkan serum setelah menggunakan produk ini karena tekstur produk ini cukup kental untuk sejenis konsentrat yang umumnya cair. Karena penggunaan produk ini aku fungsikan sebagai serum, sebagai referensi buat kalian nih, serum yang aku gunakan sebelumnya adalah Olay® White Radiance™ celLucent™ White Radiance Essence Serum.

Lama Pemakaian

Aku menggunakan produk ini sejak Juli 2017 hingga awal Januari 2019. Ada perbedaan frekuensi/seberapa intensif aku menggunakan produk ini. Nah, bisa lanjut dibaca di bagian selanjutnya ya 🙂

Efek Setelah Penggunaan

Aku menggunakan produk ini untuk pertama kalinya dengan kondisi kulit wajah yang ngga terlalu bermasalah. Bekas jerawat dan noda-noda sebagian besar sudah cukup hilang karena perawatan dengan produk-produk yang aku gunakan sebelumnya dengan serum Olay dan pelembab L’Oreal. Hanya saja, tekstur kulit mukaku yang kurang halus akibat bekas jerawat masih belum selesai hanya dengan produk-produk tersebut.

Satu botol sudah habis, satunya lagi masih sisa sedikit 🙂

Aku mulai menggunakan produk ini pada bulan Juli 2017 hingga Januari 2019, walau penggunaan produk ini secara intensif (setiap hari dan ngga skip) itu aku jalanin dari Juli 2017 hingga April 2018. Saat itu, aku masih berkutat dengan penelitianku di IMERI, Salemba, jadi ngga heran kalau polusi itu ‘makanan’ sehari-hari buat aku yang sering pulang-pergi dari rumahku di Bogor menuju lab di Salemba.

Sebenarnya, aku tetap melindungi wajahku dengan masker (yang biasa dipakai kalau lagi batuk), setidaknya untuk menahan agar debu dan polusi ngga langsung menempel di kulit. Namanya juga manusia, kadang ada malasnya juga pakai masker. Belum lagi, faktor kelelahan khususnya karena perjalanan dari rumah ke lab setiap hari jadi ikut berperan pada tampilan kulit yang kusam dan tampak ngga kencang.

Selama 2017 itu, jam tidurku juga berantakan, jadi aku berharap dengan menggunakan konsentrat ini setidaknya aku memberikan nutrisi tambahan langsung ke kulitku khususnya selama waktu regenerasi kulit yang paling maksimal (jam 10 – 2 malam).

Oh iya, pertengahan April 2018, aku mulai menambahkan serum The Body Shop Roots of Strength Firming karena aku merasa kulitku makin ‘kasihan’ saking terbiasa kurang tidur setiap hari.

The Body Shop Roots of Strength Firming Serum (plus jahe sebagai modelnya ^^)

 Takut juga sih kulit bakal kendur karena kurang istirahat kaya begitu. Makanya, aku nyoba buat menambahkan serum firming dengan harapan untuk mencegah kulit kehilangan elastisitasnya dan membantu sirkulasi darah di bagian muka.

Rutinitas penggunaan produk ini yaitu dua kali sehari, pagi dan malam. Produk ini kugunakan setelah aku membersihkan muka dengan pembersih wajah dan toner. Setelah menggunakan produk ini, aku langsung menggunakan pelembab (atau serum Roots of Strength baru kemudian pelembab). Selama penggunaan produk ini, aku ngga mengalami reaksi tertentu seperti gatal-gatal, kulit kemerahan, ataupun break out/bruntusan.

Oke, sekarang bagian utamanya, mari kita bedah efek yang aku dapat sesuai dengan klaimnya atau tidak:

1. Membantu proses pembaharuan kulit –> membantu mencegah tanda-tanda awal penuaan
Aku akan gabung dua klaim yang sebenarnya secara maksud tujuannya mirip. Seperti yang sudah kusebutkan sebelumnya, beberapa tanda awal penuaan itu bisa dilihat dari kulit yang kurang kencang dan kusam. Kulit yang kusam dikatakan sebagai tanda awal penuaan karena kekusaman mengindikasikan kulit yang kurang terhidrasi dan kurang terawat/ternutrisi dengan baik.

Setelah menggunakan produk ini, aku memang mendapati hasil kulit yang ngga kusam dan tampilan kulit yang lebih plump. Walaupun malamnya kurang tidur banget, produk ini membantu kulitku tetap tampak seperti aku mendapatkan tidur yang cukup dan tentunya ngga kusam. Yup, kurang tidur juga ikut menyebabkan kulitku kelihatan kusam dan ngga segar -_-

Tetapi, apakah penggunaan produk ini dalam jangka waktu panjang akan bantu menyamarkan garis-garis halus yang juga merupakan tanda awal penuaan? Nah, untuk hal ini sayang sekali aku belum bisa membuktikan apakah betul bisa menyamarkan atau ngga. Aku punya garis-garis halus di sekitar pipi (smiling line), nah aku ngga merasa garis-garis halus tersebut hilang atau setidaknya tersamarkan secara signifikan.

Hanya saja, itu jadi pertanyaanku sih, apakah penggunaan selama 1,5 tahun ini kurang ya? Atau sebenarnya aku butuh semacam alat yang memang bisa melihat dan mengukur apakah garis-garis halus ini beneran memudar apa ngga? Cuma, selama garis-garis halus ini masih bisa terlihat oleh mata, aku ngga akan bisa mengamini bahwa produk ini saja bisa digunakan untuk menyamarkan garis-garis halus tentunya setelah penggunaan selama 1,5 tahun.

2. Membantu kulit menjadi halus, segar, dan cerah
‘Pekerjaan rumah’ dari kulit yang sudah selesai dengan jerawat umumnya adalah mengembalikan tekstur kulit menjadi halus. Aku punya beberapa bekas jerawat yang walaupun ngga sampai bopeng juga tetapi ngga tahu kenapa kalau aku pegang bagian pipi dan keningku itu berasa tekstur ngga halus.

Aku sadar kalau menjaga makan dan minum saja ngga cukup, perawatan yang tepat dan langsung menutrisi kulit juga ikut membantu kulit muka tetap sehat. Aku ngga berharap macam-macam awalnya dengan produk ini, karena aku mengincar produk ini membantu mengembalikan tekstur kulitku jadi halus.

Sebagai perbandingan, ini kondisi kulitku pada Oktober 2016 (kerudung warna kuning muda) dan pada September 2017 (kerudung coklat). Can you spot the differences? 🙂

IMG_20161028_202524

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hasilnya setelah penggunaan produk ini adalah aku ngga cuma dapat hasil tekstur kulit yang halus, tapi juga ngga kusam alias cerah. Enak banget dilihatnya tiap bangun pagi, kulit segar dan plump juga! :’)

Sejak aku pakai produk ini, aku jadi perhatiin kalau kebiasaan dandanku jadi lebih sederhana banget: pelembab dengan SPF + bedak tabur + cheek lit + lip tint. Less make up, less hassle time in the morning hehe.

Kesimpulan

1. Apakah produk ini bekerja sesuai klaimnya?
a) Mencegah tanda-tanda awal penuaan? Yes, kalau tanda-tanda awal penuaannya itu seperti kulit kusam, kurang kencang/mulai kehilangan elastisitas. Untuk garis-garis halus, aku ngga melihat mereka hilang atau tersamarkan seutuhnya dengan penggunaan produk ini selama 1,5 tahun.

Di lain hal, bisa jadi produk ini mencegah timbulnya garis-garis halus di area lain pada mukaku, hanya saja aku ngga tahu cara untuk buktiinnya gimana karena garis-garis halus yang kupunya hanya di smiling line (pipi) dan bawah mata.

b) Membuat kulit halus, segar, dan cerah? Yes, tekstur kulitku memang jadi halus setelah penggunaan produk ini secara rutin. Untuk cerah, aku melihatnya dari kulitku yang ngga kusam dan tampak plump, jadi kalau dilihat ya kulitnya seperti lebih cerah dari sebelumnya. Senang deh, karena kulitku jadi terasa lebih sehat gitu. Healthy glow, it is! 🙂

2. Ada reaksi tertentu seperti gatal-gatal, kemerahan, breakout/bruntusan, dll? Nope! 🙂

3. Bakal beli lagi apa ngga? Sadly, nope 🙁
Jujur, kekecewaanku dengan produk ini adalah kandungan alcohol denatured (urutan ketiga) dan benzyl alcohol (urutan kedelapan) yang ada di urutan-urutan awal daftar bahan produk ini. Aku berharap banget The Body Shop bisa re-formulasi bahan-bahan yang digunakan untuk konsentrat ini.

Bukannya apa-apa, sudah banyak lho produk konsentrat lain yang ngga menyertakan alkohol atau setidaknya alkohol yang digunakan bersifat kurang mengiritasi dan berada dalam urutan terakhir daftar bahan produknya. Aku memang ngga mengalami reaksi-reaksi yang mungkin umum ditemukan pada kulit sensitif. Hanya saja untuk kulit kalian yang sensitif dengan alkohol, aku rasa kalian perlu cobain sampel dari produk ini dulu sebelum memutuskan untuk beli full size-nya.

Beli Dimana dan Harganya Berapa?

Aku beli di The Body Shop Grand Indonesia. Produk ini juga bisa dibeli via online atau lewat aplikasi The Body Shop yang bisa diunduh di Google PlayStore dan iOS. Untuk harganya, botol yang berukuran 30 ml dibandrol dengan harga Rp 539.000,00, sedangkan botol yang berukuran 50 ml dibandrol dengan harga Rp 649.000,00.

Saranku, kalau memang kulit kalian oke setelah mencoba sampelnya dan ngga keberatan dengan kandungan alkoholnya, langsung beli saja botol ukuran besarnya (50 ml) karena kalau dihitung-hitung lebih hemat juga. Memang lebih mahal Rp 110.000,00, tapi kalau kalian mau pakai produk ini dalam waktu lama aku saranin ambil saja ukuran 50 ml.

Referensi

Abella, M.L. 2006. Evaluation of anti-wrinkle eficacy of adenosine-containing products using the FOITS technique. International Journal of Cosmetic Science 28(6): 447-451.

Barros, L., Carvalho, A.M., Ferreira, I.C. 2010. Leaves, flowers, immature fruits and leafy flowered stems of Malva sylvestris: a comparative study of nutraceutical potential and composition. Food and Chemical Toxicology 48(6): 1466-72.

Dobner, M.J., Sosa, S., Schwaiger, S. 2004. Anti-inflamatory activity of Leontopodium alpinum and its constituents. Planta Medica 70(6): 502-8.

Dweck, A.C. 2004. A review of edelweiss. SOFT Journal 130: 65-8.

Joshi, S., Kumari, R., Upasani, V.N. 2018. Applications of algae in cosmetics: An overview. International Journal of Innovative Research in Science, Engineering, and Technology 7(2): 1-10.

Kupeli, E., Kartal, M., Aslan, S., Yesilada, E. 2006. Comparative evaluation of the anti-inflammatory and antiinociceptive activity of Turkish Eryngium species. Journal of Ethnopharmacology. 107(1): 32-7.

Meot-Duros, L., Le Floch, G., Magne, C. 2008. Radical scavenging, antioxidant, and antimicrobial activities of halophytic species. Journal of Ethnopharmacology 116: 258-262.

Nicu, A.I., L. Pirvu, A. Vamanu, G. Stolan. 2016. The European beech leaves has an antibacterial effect by inducing oxidative stress. Romanian Biotechnological Letters 22(6): 12071-5.

Speroni, E., Schwaiger, S., Egger, P. In vivo efficacy of different extracts of edelweiss (Leontopodium alpinum Cass.) in animal models. Journal of Ethnopharmacology 105(3): 421-6.

Wang, J., Jin, W. Hou, Y. Niu, X., Zhang, H., Zhang, Q. 2013. Chemical composition and moisture absorption/retention ability of polysaccharides extracted from five algae. International Journal of Biological Macromolecules. 57: 26-9.

Reis, M.Y.F.A., dos Santos, S.M., Silva, D.R., Silva, M.V., Correia, M.T.S., Navarro, D.M.A.F., Santos, G.K.N., Hallwass, F. Bianchi, O. Silva, A.G., Melo, J.V., Mattos, A.B., Ximenes, R.M., Machado, G., Saraiva, K.L.A. 2017. Anti-inflammatory activity of babassu oil and development of a microemulsion system for topical delivery. Evidence Based Complementary and Alternative Medicine. doi: 10.1155/2017/3647801

3 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.