Masker Wajah

[Review] Utama Spice Temu-Temu Face Mask

Hi, hello!

Masker clay memang sudah ngga asing lagi bagi kita yang memiliki tipe kulit berminyak atau normal-berminyak. Banyak merek baik lokal maupun asing yang menawarkan masker clay dengan kandungan beragam. Ngga jarang, kita pun bingung ya mau beli masker clay yang mana kan.

Seperti yang kita tahu, masker clay dikenal dengan kemampuannya untuk menyerap kelebihan minyak. Gimana dengan masker clay yang juga punya manfaat untuk mencegah penuaan? Terus, percaya ngga sih ada produk perawatan yang bahannya ‘minimal’?

Ngga becanda ini, yuk kenalan dulu dengan Utama Spice Temu-Temu Face Mask

Utama Spice Temu-Temu Face Mask

Klaim

Masker ini ngga memiliki klaim secara spesifik sih. Masker ini hanya menyebutkan manfaat dari hanya dua bahan alaminya yang ada di produk ini sebagai keunggulannya.

Yup, kamu ngga salah baca. Masker dalam bentuk bubuk ini hanya menggunakan clay dan temulawak  saja. Makanya, masker ini tidak hanya memiliki kemampuan untuk mengurangi kelebihan minyak karena kandungan clay tapi juga mampu mencegah penuaan karena kandungan temulawak.

Tampilan

Menurutku, kemasan/wadah masker ini cukup rawan bikin maskernya tumpah kalau kalian bawa masker ini dalam perjalanan dan ngga hati-hati saat menutup maskernya.

Tampak samping wadah masker; Ada info masa kadaluarsanya (bulan 9 tahun 2020)

Kemasannya terbuat dari plastik. Saat pertama kali aku buku produk ini, ngga ada seperti segel dari kertas atau plastik menutupi bubuk maskernya.

Tampilan dalam setelah wadah dibuka

Isi masker ini 50 gr ya teman-teman 🙂

Bahan

Clay, ekstrak akar temulawak (Curcuma xanthorriza)

Sejauh ini, masker ini adalah masker bilas dengan bahan paling straight to the point hahaha. Masker ini berbentuk bubuk. Di dalam kemasannya, ada dessicant silica gel yang berfungsi untuk menjaga kualitas bubuk masker ini.

Produk yang Dipakai Sebelumnya

Masker clay yang kupakai sebelumnya itu L’Oreal Pure Clay Mask varian Detoxify.

Pengalaman Selama Pemakaian

Tipe kulitku ini normal-berminyak dan rawan dehidrasi (dehydrated). Bagian muka yang rawan tersumbat pori-porinya sehingga bisa komedoan itu paling banter di hidung dan kening.

Aku ngga terlalu berharap lebih dengan klaim anti aging-nya karena mencegah penuaan itu ngga cukup hanya dengan satu produk saja… apalagi yang dipakai mingguan seperti masker. Karena itu, fokusku memang hanya untuk mengurangi minyak berlebih dan membersihkan pori-pori.

Aku pakai masker ini sekali seminggu di malam hari. Aku sendiri pakai masker ini dari bulan Maret hingga Desember 2018. Cukup 3 sendok teh masker bubuk ini dicampur dengan air secukupnya, dan voila… maskernya cukup untuk semuka.

Masker dan ‘alat’ andalan saat maskeran ^^

Seperti yang terlihat di foto atas, aku pakai sendok takaran untuk menakar bubuk masker yang diperlukan. Ngga ribet, begitu pun saat membuat masker ini dan pengaplikasiannya. Satu set perlengkapan maskeran ini (sendok takar, pengaduk, kuas masker, dan wadah) aku beli di Miniso Margo City, Depok. Kalau ngga ada Miniso di kota kalian, bisa banget lho cek Shopee resminya Miniso di sini.

Aku menghindari masker clay yang terlalu tebal pengaplikasiannya di muka karena clay sendiri aja sudah berfungsi secara maksimal untuk menyerap kelebihan minyak. Masker bilas yang terlalu tebal malah bikin kulitku makin kering.

Membersihkan masker ini perlu usaha cukup ekstra. Bukan karena maskernya susah dibersihkan, tapi karena residu masker ini yang meninggalkan efek kuning ke kulit kita. Maklum, namanya juga masker super alami… bahannya aja cuma dua kan.

Cara untuk membersihkan masker ini cukup gampang dan jangan dibersihkan dengan pembersih wajah ya yang ada muka malah makin kering. Setelah masker dibilas sampai ngga ada lagi residu yang terasa di muka, bersihkan lagi menggunakan toner hydrating yang dibasahkan ke kapas. Ulangi beberapa kali hingga ngga ada lagi warna kuning dari masker ini tertinggal di kapas. Hitung-hitung kita sekalian menghidrasi kulit kan 😉

Efek Setelah Pemakaian

Efek yang aku rasakan memang betul wajahku jadi ngga terlalu berminyak setelah selesai pakai masker ini. Cuma, layaknya masker-masker wajah pada umumnya, efek ngga terlalu berminyak ini paling maksimal tahan sampai keesokan harinya. Setidaknya, aku suka dengan kemampuannya menyeimbangkan kadar minyak berlebih di area T (dahi, hidung, dagu) dan pipi (ngga semua sih, hanya area pipi yang lebih dekat ke arah hidung).

Efek masker ini terhadap pori-pori tersumbat bisa dibilang biasa saja. Maksudnya, aku merasa masker ini mampu membantu sebum/minyak dan kotoran yang terperangkap di pori jadi ‘muncul’ ke permukaan. Well, clay itu punya kemampuan untuk menarik kelebihan minyak, toksin, kontaminan dan sekresi lainnya di kulit (Williams & Haydel, 2010).

Oh iya, seperti masker clay pada umumnya, aku juga merasa kulitku jadi halus setelah rutin maskeran dengan masker ini. Memang, aku membiasakan untuk maskeran setelah eksfoliasi. Aku rasa masker ini jadi memaksimalkan proses pengangkatan sel-sel kulit mati seperti halnya fungsi clay itu sendiri1. Efek kulit halus ini bisa terlihat dari base makeup (BB cream, CC cream, foundation) yang ngga kelihatan cakey di kulitku.

Setiap selesai maskeran dengan jenis masker apapun itu, jangan lupa melembabkan kulit! Ini penting, karena ngga jarang kita kelupaan saking sudah senangnya dengan efek kulit yang halus. Karena ini masker bilas, aku pakai essence, serum, dan pelembab sesudah maskeran supaya kulit tetap ternutrisi dan terjaga lembabnya.

Kesimpulan

Apakah sesuai dengan klaim atau manfaat yang dijanjikan?

Ya, masker ini membantu mengurangi kelebihan minyak yang efeknya terasa hingga keesokan harinya. Untuk manfaat mencegah penuaan dari temulawak, menurutku hal ini ngga bisa dilihat hanya dengan penggunaan masker saja apalagi yang frekuensi penggunaannya seminggu sekali.

Apakah masker ini menimbulkan reaksi tertentu?

Tidak, masker ini ngga menimbulkan reaksi kemerahan, gatal, bahkan bruntusan/jerawat kecil-kecil (breakout) pada kulitku.

Apa yang mesti diperhatikan saat menggunakan masker ini?

Setelah masker dibilas bersih, muka jangan lupa dibersihkan lagi dengan toner hydrating biar sekalian mengembalikan kelembaban ke kulit pasca maskeran sekaligus mengangkat residu masker yang bakal kelihatan kuning di kapas.

Bakal beli lagi apa ngga?

Untuk saat ini, tidak. Kulitku lagi di kondisi ‘ambigu’ deh. Bagian yang berminyaknya kalau terlalu di-treat dengan produk yang fungsinya untuk mengurangi minyak berlebih, hasilnya malah makin kering. Kalau kulit kalian memang tipe

Bisa Dibeli Dimana & Harganya Berapa?

Aku beli masker ini di Watson’s Grand Indonesia karena ada pojok khusus yang isinya produk-produk Utama Spice. Masker ini dibandrol dengan harga Rp 65.000,00. Sayangnya, masker ini ngga tersedia di laman resminya Utama Spice atau di Shopee resmi-nya Utama Spice tapi siapa tau kalian tertarik dengan varian maskernya yang lain atau perawatan wajah dan tubuh dari Utama Spice lainnya kan? 😉

Gimana, tertarik untuk mencoba masker ini?

Sampai jumpa di tulisan selanjutnya ya! 🙂

Referensi

Williams, L.B., S.E. Haydel. 2010. Evaluation of the medicinal use of clay minerals as antibacterial agents. International Geology Review 52(7/8): 1-31.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.